SLEMAN - Sebanyak 2.000 pisau diasah di Masjid Agung Sleman dalam agenda Jagal Sembada Expo 2025. Kegiatan diselenggarakan sejak Sabtu hingga Minggu (4-5/5).
Koordinator Acara Jagal Sembada Expo 2025 Djaka Purnama menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan jelang Idul Adha. Dia menegaskan pisau merupakan peralatan vital saat menyembelih hewan kurban.
"Masalah yang umum terjadi itu panitia kurban tidak bisa mengasah pisau. Ini terjadi setiap tahun dan di mana-mana," katanya.
Padahal, proses penyembelihan hewan tidak boleh layaknya menggergaji kayu. Cara itu menyiksa dan membuat hewan kurban kesakitan. Di sisi lain, sahibul kurban juga bisa merasa kecewa.
"Kasihan hewan kurbannya. Jadi pisaunya harus khusus dan tajam," tegasnya.
Djaka menyebut, cara menyembelih memengaruhi pisau yang digunakan. Apabila ingin menggunakan sistem dorong, maka minimal pisau memiliki panjang 28 centimeter. Sementara sistem tarik 15 centimeter karena pisau dimasukkan ke leher.
"Informasi kegiatan ini kami bagikan ke semua takmir masjid di Sleman. Semua bisa ikut. Kami juga lakukan road show dari Purworejo, Bantul, Kotagede," katanya.
Menurut Djaka, pisau memang bisa diasah manual menggunakan batu asah. Namun, biasanya tidak maksimal dan membutuhkan waktu lama.
"Kalau kami menggunakan alat belt grinder dan mesin poles untuk finishing. Dalam hitungan menit bisa selesai," katanya.
Dalam agenda Jagal Sembada Expo 2025 ini juga turut diberikan materi mengenai sembelih kurban. Harapannya mental, iman, dan peralatan para petugas bisa prima saat bertugas. "Semoga ini bisa memberikan manfaat yang luas sehingga penyembelihan bisa dilakukan sesuai syariat," tandas Djaka.
Sementara itu, warga Kota Jogja Wibowo mengaku membawa dua pisau khusus kurban dalam agenda ini. Dia menyebut ketajaman pisau merupakan hal krusial karena kurban merupakan salah satu bentuk ibadah.
"Ngasah sendiri lama. Kalau di sini pakai mesin dan dengan ahlinya. Kegiatan ini sangat dibutuhkan," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita