SLEMAN - Sampah masih menjadi persoalan rumit yang belum bisa diselesaikan di Yogyakarta. Melihat kondisi ini, Paste Lab turut hadir memberikan kontribusi. Seperti apa?
Creative Associate Paste Lab Nurul Asfiani menjelaskan, perusahaan ini berdiri sejak 2018. Namun kala itu masih berlokasi di garasi rumah dengan proses produksi yang sederhana.
"Kami baru mendeklarasikan diri sebagai perusahaan daur ulang sampah plastik dan waste management pada 2021," katanya.
Dia menjelaskan, pendiri Paste Lab memiliki latar belakang pendidikan teknik mesin UGM. Sehingga, berupaya turut menyelesaikan permasalahan yang dipadukan dengan teknologi.
Konsepnya adalah membuat sampah plastik menjadi lembaran. Dari lembaran itu bisa dibuat produk berbagai macam. Mulai dari meja, gantungan kunci, hingga hiasan dinding.
"Semua yang dibuat dari kayu otomatis bisa menggunakan material plastik daur ulang ini. Apa pun bentuknya, bahkan di luar katalog produk," kata Nurul.
Dia menyebut produk yang dihasilkan dalam sebulan bisa mencapai ribuan. Harganya juga bervariasi, dari Rp 30 ribu hingga jutaan rupiah.
Perusahaan yang berlokasi di Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik ini tidak hanya fokus pada pasar lokal. Mereka juga pernah ekspor hingga ke Jerman, Inggris , dan Arab.
"Di luar negeri apresiasi terhadap produk daur ulang limbah plastik tinggi. Harganya jadi lumayan," tambah Nurul.
Sampah plastik yang diolah oleh Paste Lab sendiri berasal dari berbagai lokasi. Mulai dari hasil donasi masyarakat hingga mitra yang bekerja sama. Mulai dari produk kecantikan, restoran, hingga kafe.
Nurul menyebut, mereka yang ingin menyumbangkan sampahnya sudah diberikan edukasi dahulu.
Sehingga tidak ada lagi material sisa dan hanya ada sampah plastik saja. Hal ini untuk mencegah bau selama proses pengiriman maupun penyimpanan sebelum produksi.
"Kru kami banyak dari mahasiswa berbagai kampus. Untuk produksi kami juga mengajak pemuda Karang Taruna Sardonoharjo," katanya.
Dalam sehari mereka bisa menghasilkan empat hingga delapan lembaran plastik. Sampah plastik yang diolah mencapai 48 kg hingga 96 kg.
"Kami ingin semakin banyak yang bisa terlibat. Jadi bisa berkolaborasi dengan masyarakat, komunitas, dan pemerintah," tambah Nurul.
Dia membayangkan suatu masa ketika masyarakat sudah disiplin memilah sampah. Lalu dari pemerintah bisa mengakomodasi alat pencacah.
Sementara dari Paste Lab bisa membeli hasil cacahan itu dan proses produksi bisa semakin masif. Masyarakat terbantu secara ekonomi dan persoalan sampah bisa turut ditekan.
Nurul menegaskan, sampah tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai momok yang mengerikan.
Ada peluang dari limbah ini dari segi ekonomi bahkan seni. "Tapi kami tidak bisa sendiri. Ketika power-nya semakin besar, tentu dampak yang dihasilkan juga semakin luas," tandasnya. (del/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita