Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

TPS3R di Sleman Terpaksa Melakukan Pembakaran Sampah, Ternyata Ini Penyebabnya

Delima Purnamasari • Minggu, 27 April 2025 | 23:06 WIB

 

Daryono saat menunjukkan proses pembakaran
Daryono saat menunjukkan proses pembakaran
SLEMAN - Persoalan sampah masih jadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Sleman. Termasuk tata kelola di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang belum maksimal.

Ketua Operasional TPS3R Atras II Kalurahan Triharjo Daryono menjelaskan, memiliki 450 pelanggan. Rata-rata satu pelanggan bisa menghasilkan 3 kg sampah sekali pengangkutan.

"Paling bagus yang bisa dijual kembali 60 persen. Sisanya itu residu," katanya.

Dia menjelaskan, sampah yang diterima dari masyarakat dalam bentuk campuran tanpa dipilah. Pihaknya akan melakukan pemilahan dengan menggunakan alat pemisah sederhana yang dirakit sendiri.

"Saya pakai bekas ayakan lalu dipasangi blower. Sampah plastik nanti akan terpisah kena angin, sementara residunya turun," katanya.

Sampah yang umumnya bisa dijual adalah jenis anorganik, seperti kardus, plastik, dan botol. Sementara lainnya dianggap residu.

Misalnya, sampah organik dan sisa anorganik yang berupa pamper, stirofoam, dan kertas minyak.

"Satu sampai dua minggu residu yang kami bakar sampai dua truk. Untuk yang basah biasanya kami keringan dulu," katanya.

Pembakaran residu sendiri dilakukan dengan tungku yang dibangun mandiri. Tungku ini dilengkapi dengan tower dengan tinggi 16 meter.

Sampah dibakar menggunakan menggunakan bahan bakar kayu didukung angin dari blower. Apabila diperlukan, dia akan turut menuangkan oli bekas.

"Kalau dipermasalahkan, asap itu memang polusi. Tapi masyarakat sudah menerima," katanya.

Menurutnya, pengelolaan sampah di TPS3R memang menghadapi tantangan tersendiri.

Pihaknya harus bisa menyelesaikan sampah yang diterima sampai tuntas. Berbeda dengan sebelumnya ketika residu bisa diangkut berkala ke TPA.

"Dalam pengolahan residu ini kami tidak mendapat apa-apa. Abunya kalau sudah banyak paling untuk urug," katanya.

Di sisi lain, harga penjualan sampah daur ulang sedang turun. Apabila dulu harga kardus Rp 3000 satu kg kini hanya Rp 1800.

Begitu pula kertas duplex, sebelumnya Rp 1800 kini hanya Rp 900 tiap kilogramnya.

"Pendapatan itu nanti disetor ke desa, untuk tenaga, dan operasional. Paling sisa Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu sebulan. Belum kalau ada kerusakan tidak terduga," keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Epiphana Kristiyani menjelaskan, sesuai namanya TPS3R semestinya melakukan proses Reduce-Reuse-Recycle. Khusus sampah organik sebenarnya bisa dibuat kompos.

"Kami bersedia membeli kompos 1.300 per kilogram. Memang tidak semua mau, tapi kami sudah terus melakukan pembinaan," katanya.

Dia menyebut, satu-satunya yang tidak bisa diolah adalah residu anorganik. Nantinya dapat ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten Sleman dengan proses di TPST untuk diolah jadi RDF.

"Membakar bukan konsep disepakati. Kami memang belum bisa memfasilitasi sepenuhnya, tetapi kami terus berusaha," jelasnya.

Epiphana menjelaskan, ada 42 TPS3R di Kabupaten Sleman. Namun, yang aktif hanya 33 saja. (del)

Editor : Bahana.
#TPS3R #Sleman #pembakaran sampah