SLEMAN - Kabupaten Sleman memiliki 139 anggota taruna siaga bencana (Tagana). Mereka bertugas untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Ketua Forum Koordinasi Tagana Kabupaten Sleman Sarjiman menjelaskan, mereka banyak bertugas dalam bidang logistik maupun dapur umum. Bencana yang paling sering terjadi di Bumi Sembada sendiri berupa angin putih beliung dan banjir.
Baca Juga: Umat Katolik di Kebumen Gelar Misa Requiem untuk Paus Fraksiskus, Diikuti 300 Jemaat
"Kerja kami dadakan karena ini bencana. Kami lakukan koordinasi karena ini organisasi berjenjang," katanya.
Menurutnya, Tagana merupakan organisasi relawan dari dan untuk masyarakat. Sehingga, tidak mendapatkan gaji. Hanya saja dari Kementerian Sosial memberikan tali asih sebesar Rp 250 ribu setiap bulannya.
Baca Juga: Polisi Selidiki Kematian Dosen Asal Semarang di Caturtunggal Sleman, Empat Saksi Diperiksa
"Nanti dapat setiap enam bulan. Ini sebagai penghargaan untuk Tagana," katanya.
Sarjiman menyebut, tidak mengharapkan suatu apa pun. Terpenting baginya adalah bisa menjalankan kewajiban sebagai relawan. Kalau pun diberikan tali asih maka diterima.
Ke depan, dia berharap fasilitas dari Pemerintah Kabupaten Sleman bisa semakin meningkat. Sehingga, bisa menunjang kapasitas anggota Tagana dalam menjalankan tugasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Sleman Mustadi menjelaskan, jumlah pemberian tali asih memang disesuaikan dengan kemampuan kementerian. Meski begitu, pihaknya turut memberikan insentif pengurus untuk operasional kegiatan forum koordinasi.
"Kami juga libatkan mereka dalam banyak kegiatan. Misal kampung siaga bencana, kader-kader Tagana itu yang ikut mendampingi," jelasnya.
Di sisi lain, dinas sosial telah berproses untuk regenerasi kader Tagana. Pada 2024 lalu dibuka pendaftaran untuk 30 orang yang memiliki minat dan komitmen.
"Kami lakukan pelatihan lima hari. Diberikan keterampilan mendirikan tenda, dapur umum, sampai pengelolaan logistik," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita