SLEMAN - Anggrek Merapi jadi salah satu tanaman yang terdampak oleh erupsi Gunung Merapi pada 2010. Namun, kini jumlahnya berangsur-angsur mulai bertambah.
Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Wahyudi menjelaskan, sebelum erupsi terdapat 90 jenis Anggrek Merapi. Jumlahnya sempat menurun hingga 50 spesies, tetapi kini telah meningkat hingga 70 jenis.
"Primadonanya Anggrek Vanda Tricolor Merapi yang tidak ditemukan di tempat lain," katanya.
Wahyudi menegaskan, seluruh tumbuhan yang ada di taman nasional dilindungi. Namun, secara spesies anggrek hanya ada satu atau dua saja yang dilindungi.
"Kalau mau dijualbelikan harus lewat mekanisme budi daya nanti di luar kawasan. Jadi nanti anggreknya memenuhi syarat," tambahnya.
Dia menyebut, anggrek ini tumbuh dengan sesuai caranya masing-masing. Ada yang menempel di pohon inang, di batu, hingga tumbuh di tanah.
"Kalau yang di tanah memang rawan pencurian. Jadi kami terus lakukan patroli dan pembinaan masyarakat sekitar kawasan," katanya.
TNGM sendiri turut mendukung tokoh-tokoh lokal yang melibatkan diri dalam konservasi ini. Salah satunya dengan memberikan bantuan green house.
"Jadi melindungi anggrek yang kami temukan untuk dilakukan perbanyakan. Sebagian kami lepas di alam," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pelestari Anggrek Merapi Endah Sri Widiastuti menjelaskan, upaya pelestarian memiliki siklus yang panjang. Dari pembibitan, penanaman, hingga budi daya. "Jadi bukan hal yang sederhana. Perlu kolaborasi dengan berbagai pihak," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita