SLEMAN - Produksi Kopi Merapi sempat terhambat dengan adanya erupsi. Namun, kini produksinya sudah semakin intensif.
Petugas pengolahan di koperasi Kopi Merapi Riski Aprilia Qoriah menjelaskan, salah satu tantangan utama dalam pengembangan Kopi Merapi memang terjadi saat erupsi. Kala itu banyak tanaman kopi tertimbun material abu vulkanik.
"Awal tanamnya memang sulit. Harus dari awal lagi untuk pembukaan lahan," katanya.
Saat lahan digunakan juga harus menunggu kondisi tanah siap. Dalam artian tidak lagi panas karena abu vulkanik. Proses ini dia sebut membutuhkan waktu cukup lama.
"Saat ini penyebaran Kopi Merapi itu di Cangkringan dan Pakem. Sudah banyak yang bertani sendiri dan masuk koperasi," katanya.
Menurut Qori, Kopi Merapi memiliki rasa yang khas. Lembut tidak seperti kopi pada umumnya. Sehingga, mereka yang umumnya tidak menyukai kopi berpotensi bisa menikmati kopi merapi ini.
"Kalau di Cangkringan setelah panen itu petani bisa setor 100 kilogram," katanya.
Dia menyebut, untuk harga biji kopi hasil panen yang masih basah 1 kilogram untuk arabika sebesar Rp 15 ribu. Sementara robusta sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu.
"Kalau sudah roasting grade A, bisa mencapai ratusan ribu tiap kilonya," katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyebut, Kopi Merapi semakin berpotensi untuk berkembang seiring menjamurnya kedai kopi di DIY. Terlebih, kopi robusta di lereng Gunung Merapi ini telah mendapat pengakuan oleh Kementerian Hukum RI sebagai Indikasi Geografis.
"Penting untuk peningkatan produktivitas kopi merapi yang saat ini telah banyak dikenal baik dari segi rasa maupun kualitasnya," sebutnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita