SLEMAN - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) telah mengembangkan bioprospeksi sejak 2020 hingga 2024. Hingga saat ini telah ada 24 produk.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Muhammad Wahyudi menjelaskan, bioprospeksi merupakan rangkaian panjang dari eksplorasi hingga tahapan produksi.
Bahan baku yang digunakan adalah sumber daya hayati di kawasan konservasi TNGM sendiri.
"Produk tersebut dihasilkan dari delapan spesies tumbuhan. Misalnya, clidemia hirta, acacia decurrens, dan laccifer lacca," terangnya.
Selain itu, turut ada satu mineral yang digunakan. Bahan baku ini berasal dari abu vulkanik Gunung Merapi. Hingga saat ini telah ada lima produk yang dipatenkan.
"Di antaranya untuk produk skincare acne series ettan Merapi. Mulai dari acne serum, acne gel, dan acne foam facial wash," tambahnya.
Produk lainnya ada berbagai jenis. Mulai dari penumbuh tanaman, obat, antikanker payudara, hingga pengawet makanan.
"Jadi produksi kawasan konservasi. Potensinya luar biasa karena belum tereksplorasi semua," tambahnya.
Menurunya, proses pengambilan dan pengolahan bahan baku menjadi bahan baku setengah jadi dilakukan oleh masyarakat.
Hal ini diawali dengan pelatihan terlebih dahulu. Harapannya nanti turut bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.
Terkait kebutuhan bahan baku juga akan dilakukan penanaman. Hal ini akan dilakukan di luar kawasan yang masih masuk lingkar sabuk merapi juga oleh kelompok masyarakat. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita