Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jaga Kualitas Layanan Desa Wisata, Dispar Sleman Sebut Tak Ingin Obral SK

Delima Purnamasari • Senin, 14 April 2025 | 02:00 WIB

 

SERU: Beberapa anak saat sedang bermain di area Desa Wisata Cibuk Kidul, Seyegan, Sleman (17/7).Delima Purnamasari/Radar Jogja
SERU: Beberapa anak saat sedang bermain di area Desa Wisata Cibuk Kidul, Seyegan, Sleman (17/7).Delima Purnamasari/Radar Jogja

SLEMAN - Desa wisata jadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan. Sehingga, penting untuk menjaga kualitas layanannya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Ishadi Zayid menjelaskan, salah satu strategi yang digunakan adalah tidak mengobral surat keputusan (SK) penetapan desa wisata. Saat ada masyarakat yang mengajukan nantinya dilakukan sebatas pencatatan terlebih dahulu.

"Tidak serta-merta kami buatkan. Kami dampingi lalu evaluasi dulu dua tahun," katanya.

Zayid menyebut, hal ini lantaran mengembangkan desa wisata bukan hal yang mudah. Konsepnya diinisiasi dari dan oleh masyarakat.

"Tugas kami adalah mendampingi, membina, mengembangkan, dan ikut mempromosikan," katanya.

Dia sendiri tidak menampik bahwa terdapat beberapa desa wisata yang vakum. Pada 2022, tercatat ada lima lokasi. Yakni Jethak II Sidoakur, Cageran Edupark, Malangan, Palgading, dan Temon.

Untuk itu, Dispar Sleman konsisten membuat klasifikasi setidaknya tiap dua tahun. Kegiatan ini turut mengundang akademisi dan praktisi.

Zayid mengatakan, setidaknya ada sepuluh indikator untuk menilai kinerja desa wisata. Termasuk mitigasi bencana dan cleanliness, health, safety, and environmental sustainabilty (CHSE).

"Jadi bisa terlihat desa wisata yang mandiri turun kelas atau naik kelas dari yang berkembang menjadi maju," tambahnya.

Menurutnya, keberhasilan desa wisata tetap bergantung pada seberapa kuat keinginan masyarakat setempat. Terlebih, pihaknya tidak bisa serta-merta memberikan bantuan meski desa wisata terkait vakum.

"Kalau sistemnya top down desa wisata tidak akan pernah berhasil. Seberapa pun bantuan kalau masyarakat tidak mau bergerak sama saja," ucapnya.

Dia berharap, desa wisata di Sleman tidak hanya hadir untuk satu atau dua tahun kemudian hilang. Zayid sendiri berkomitmen mendukung pengembangan masyarakat yang memiliki niat kuat untuk pengembangan desa wisata mereka.

Sementara itu, salah satu perajin batik Wiwik Tri mengaku, hadirnya desa wisata turut membantu sumber pendapatannya. Dia menyebut kerap diminta jadi pendamping bagi para wisatawan yang ingin belajar membatik. "Saya kerap mendampingi di Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Pancoh," katanya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#klasifikasi #evaluasi #penetapan #Surat Keputusan (SK) #praktisi #bantuan #Sleman #naik kelas #layanan #strategi #akademisi #Dinas Pariwisata (Dispar) #SK #Dispar Sleman #kualitas #daya tarik #Wisatawan #desa wisata