Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Zayid.
Dia mengaku bersyukur di tengah ekonomi yang sulit, kunjungan wisatawan masih sesuai target, yakni di angka 300.000 sampai 500.000.
Salah satu destinasi yang banyak didatangi wisatawan adalah Kaliadem dengan rata-rata 10.000 kunjungan tiap harinya. Selain itu, Kaliurang dengan 4.000 kunjungan per hari.
"Candi Prambanan itu total 108 ribu. Puncak kunjungan di Sleman pada tanggal tiga," tambahnya.
Walau demikian, Zayid menyoroti rendahnya okupansi hotel yang hanya mencapai 35 persen. Dengan kata lain, wisatawan banyak, tetapi yang menginap minim.
"Belanja wisatawan itu Rp 1 juta sampai Rp 1,25 juta. Itu lebih untuk oleh-oleh dan kuliner," katanya.
Dia menyebut, hal yang harus diwaspadai adalah kunjungan wisatawan ke depan. Utamanya di tengah larangan study tour dari beberapa daerah maupun dampak dari efisiensi.
"Kebijakan-kebijakan itu pasti akan berdampak pada sektor pariwisata," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sleman Andhu Pakerti menyebut, data hotel yang dipesan memang pada angka 30 persen. Namun, realisasi okupansi mencapai 69 persen.
"Angka ini naik kalau dibanding tahun lalu," terangnya. (del)
Editor : Bahana.