Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ribuan Umat Hindu Ikuti Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Diawali Mendhak Tirta dan Ditutup dengan Pawai Ogoh-Ogoh

Khairul Ma'arif • Sabtu, 29 Maret 2025 | 03:13 WIB

 

BENTUK PEMBERSIHAN DIRI: Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh dalam rangkaian prosesi Upacara Tawur Agung Kesanga di Kompleks Candi Prambanan, Sleman Jumat (28/3).
BENTUK PEMBERSIHAN DIRI: Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh dalam rangkaian prosesi Upacara Tawur Agung Kesanga di Kompleks Candi Prambanan, Sleman Jumat (28/3).

SLEMAN - Tawur Agung Kesanga digelar di Candi Prambanan Jumat (28/3). Upacara sakral tahunan ini diikuti oleh ribuan umat Hindu untuk menyucikan alam semesta menjelang Hari Raya Nyepi.

Umat Hindu memulai acara dengan mendhak tirta. Prosesi mengambil air suci (tirta) dari sumber-sumber tertentu ini dimulai pukul 06.00. Tirta tersebut kemudian dibawa ke area candi diiringi dengan senjata nawa sangga.

 Baca Juga: Kesempatan Ketemu Wapres Gibran di Pasar Terban, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo Sampaikan Pesan Khusus

Kemudian, umat Hindu mengitari pelataran Candi Prambanan sebagai bentuk penghormatan. Prosesi ini biasa disebut dengan pradaksina. Ritual selanjutnya adalah pencaruan dan murwakala. Terakhir adalah arak-arakan ogoh-ogoh dan gunungan yang berisi hasil bumi.

“Ogoh-ogoh diarak selain jadi tontonan, juga tuntunan,” sebut Ketua PHDI DIY I Nyoman Gunarsa Jumat (28/3).

 Baca Juga: Fakta Gedung Pencakar Langit di Thailand yang Rubuh Diguncang Gempa M 7,4, Terdapat Indikasi Korupsi?

Menurutnya, ogoh-ogoh dengan beragam bentuk tersebut tetap mewakili sosok Bhuta Kala. Tujuan dari arak-arakan adalah untuk memberikan ruang agar menyatu dengan masyarakat sehingga saling bersinergi.

BENTUK PEMBERSIHAN DIRI: Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh dalam rangkaian prosesi Upacara Tawur Agung Kesanga di Kompleks Candi Prambanan, Sleman Jumat (28/3).
BENTUK PEMBERSIHAN DIRI: Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh dalam rangkaian prosesi Upacara Tawur Agung Kesanga di Kompleks Candi Prambanan, Sleman Jumat (28/3).

Nantinya, ogoh-ogoh tersebut tidak seluruhnya dibakar. Hanya diambil kuku, rambut, atau bagian lain dari ogoh-ogoh sebagai simbol untuk caru atau pembakaran. Prosesi ini pun sebagai simbol pembersihan diri dari sifat buruk.

 Baca Juga: Pemkab Bantul Jamin Inflasi Terjaga Harga dan Stok Bahan Pokok Stabil di Libur Lebaran

Tawur Agung Kesanga turut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam sambutannya, Gibran menekankan soal perayaan Hari Raya Nyepi yang hampir bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri. Dia berpesan kepada kepala daerah harus berupaya perayaan berjalan lancar dan aman. Sehingga setiap umat masing-masing agama dapat khusyuk merayakannya. “Toleransi dan saling menghormati perbedaan harus diperhatikan dan diperkuat,” pesannya.

 Baca Juga: PWI Kabupaten Magelang Berbagi untuk Anak-Anak Panti, Membantu Meringankan Beban Pengurus Panti

Menurut Gibran, keberagaman menjadi kekuatan Indonesia dan perbedaan menyatukan sehingga kerukunan dan persatuan harus dijaga bersama. Sebab selama ini, umat Hindu selalu menjaga kerukunan dan persatuan dalam perbedaan. Pelaksanaan Tawur Agung Kesang di Candi Prambanan, pun disebut menjadi simbol toleransi.

 

"Pelataran Candi Prambanan yang letaknya bersebelahan dengan Candi Sewu, sebagai salah satu simbol toleransi antarumat beragama," sambungnya. (ayu/rul/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#mendhak tirta #air suci #Umat Hindu #pembakaran #Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka #pradaksina #pembersihan diri #senjata #caru #toleransi #ogoh-ogoh #candi sewu #alam semesta #candi prambanan #simbol #Hari Raya Idul Fitri #bhuta kala #Nawa Sangga #Hari Raya Nyepi #Tawur Agung Kesanga #upacara sakral