SLEMAN - Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sleman mengaku akses banyak terkendala saat melakukan pemadaman. Kondisi ini membuat waktu tanggap dalam menghadapi kebakaran lebih dari standar nasional.
Komandan Regu I Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman Bayu Ibrahim Aji menjelaskan, standar waktu adalah 15 menit. Terhitung sejak laporan masuk hingga penyemprotan pertama.
"Kalau kejadian di Prambanan atau Kalasan dan ketika jam sibuk, enggak mungkin sampai itu," katanya.
Dia menyebut, salah satu kendalanya adalah penggunaan portal di masyarakat. Baik itu yang dipasang paten di tengah atau dikunci pada waktu tertentu.
"Kalau kebakaran agak di dalam dan aksesnya sempit juga. Apalagi kalau armada yang kecil baru penanganan dan tinggal yang besar," tambahnya.
Baca Juga: Alasan Cuaca, Yusaku Yamadera Sudah Pasti Bertahan di PSIM Jogja untuk Musim Depan
Bayu juga menyebut, kendala lain adalah banyaknya kabel menjuntai di jalanan. Tak jarang mereka harus menaikan sendiri kabel tersebut agar bisa dilewati oleh armada.
"Pernah juga kabelnya putus ketabrak," ucapnya.
Kondisi tersebut membuat tim pemadam kebakaran kerap meminta bantuan di pos daerah lain. Misalnya, Pos Piyungan milik Kabupaten Bantul saat kebakaran di Prambanan.
"Kalau di Tempel perbatasan Magelang, kami minta bantu tim di Salam. Namanya darurat jadi siapa yang terdekat," jelasnya.
Bayu turut menyebut, pada 2024 ada sekitar 150 kejadian kebakaran. Mayoritas adalah kebakaran lahan. Sementara permukiman hanya sekitar 30 persen saja.
"Kami menangani kondisi kedaruratan yang mengancam jiwa atau berpotensi kerugian. Kalau kunci jatuh ke selokan bisa ke tukang kunci yang lebih profesional," pesannya.
Baca Juga: Penyerapan Pupuk Subsidi Belum Maksimal, DP3 Sebut Ada Mekanisme Alokasi Ulang
Sementara itu, Kepala Satpol PP Sleman Shavitri Nurmala Dewi mengatakan, direncanakan akan membangun pos pemadam kebakaran ketiga. Lokasinya berada di Kalurahan Madurejo, Prambanan.
"Lokasinya di utara TPU Madurejo. Harapannya nanti bisa melayani di wilayah Sleman timur, selatan, dan utara," jelasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita