SLEMAN - Diabetes melitus (DM) di Kabupaten Sleman pada 2024 mencapai 2.267 kasus. Naik dari 2023 yang berjumlah 2.123 kasus. Kini penyakit tidak menular ini sudah mulai menyasar usia dewasa muda.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, jumlah tersebut merupakan kumulatif dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini lantaran sekali terdiagnosa maka selamanya tercatat setiap tahunnya.
"Terbanyak di usia 50-60 tahun. Tapi kini mulai banyak dilaporkan pada usia dewasa muda 30 tahunan," ungkapnya.
Dia menyebut, faktor terbesar yang jadi pemicu adalah gaya hidup tidak sehat. Misalnya, pola makan dengan gizi tidak seimbang, sementara aktivitas fisik kurang. Selain itu, jam tidur hingga stres yang tidak dikelola dengan baik.
Baca Juga: Demi Akselerasi Program, Ahmad Luthfi Ajak OPD Belanja Masalah
"Anjuran konsumsi gula adalah sepuluh persen dari total energi. Setara dengan empat sendok atau 50 gram tiap orang," katanya.
Disinggung soal budaya nongkrong dan konsumsi minuman manis oleh anak muda, Yuli menyebut sebenarnya boleh saja. Namun, perlu diimbangi dengan aktivitas fisik minimal 150 menit tiap minggu.
"Jangan sampai mengganggu pola tidur. Sesuai kebutuhan," imbaunya.
Dia menyebut, Pemerintah Kabupaten Sleman telah membuat berbagai program penanganan dan pencegahan. Misalnya, Posbindu dan cek kesehatan gratis untuk deteksi penyakit tidak menular sejak dini.
Ada pula program masyarakat tangguh sehat jiwa yang salah satunya menyediakan layanan konsultasi daring oleh psikolog. Ada juga program kebugaran yang bekerja sama dengan dinas pemuda dan olahraga.
"Bila diabetes melitus tidak terkendali bisa berujung pada penyakit jantung koroner dan serangan jantung mendadak," ungkapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita