SLEMAN - Jadi seorang seniman bukanlah hal yang mudah. Namun, Harbani Setyowati berhasil melakukannya sembari jadi ibu rumah tangga.
Perempuan asal Solo ini mengaku tidak mudah untuk membagi waktu. Namun sejak kepindahannya ke Jogjakarta pada 2004, semangatnya justru menggebu-gebu.
"Di Jogja itu pameran enggak ada berhentinya. Kesempatan itu banyak. Sehari pernah sampai lima titik yang bisa didatangi," katanya saat ditemui pada Pameran Janur Kuning Kedua di Monumen Jogja Kembali, Kamis (27/2).
Baca Juga: Bupati Sleman Harda Kiswaya Sebut Retret Ajarkan untuk Berani Ambil Keputusan
Pameran tersebut mengusung tiga tokoh, yakni Soeharto, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan Soedirman. Harbani sendiri menggambar sosok Soeharto dengan tajuk The Skilling General.
"Sebenarnya saya banyak memakai figur perempuan. Tapi karena ini menyesuaikan temanya," katanya.
Perempuan usia 54 tahun ini menyebut, mau tidak mau harus membagi waktu dengan ketat. Semisal akan melakukan pameran besar dia akan bersiap setidaknya tiga bulan.
"Awalnya siapkan kanvas dulu, nanti disambi. Lalau cat dan temanya. Kalau sudah ketemu idenya, baru fokus satu bulan penuh," tambah perempuan lulusan ISI Surakarta ini.
Harbani menilai, perempuan memiliki cara tersendiri untuk menginspirasi. Perempuan adalah ciptaan yang selalu bisa menggunakan pendekatan yang lembut. Termasuk saat menyuarakan protesnya.
"Lewat figur perempuan, pesan akan lebih terasa dan kena," katanya.
Perempuan yang tinggal di Kabupaten Bantul ini menilai, banyak perjuangan perempuan yang jarang jadi perhatian. Salah satunya adalah caranya dalam manajemen uang.
"Bagaimana sosok ibu bisa memastikan uang yang ada bisa cukup untuk semua kebutuhan," katanya.
Baca Juga: Resep Es Pisang Ijo Takjil Segar Khas Makassar untuk Berbuka Puasa
Salah satu karya kebanggaannya sendiri berjudul Memakai Kaca Mata Kuda. Di sini, Harbani melukiskan perempuan ningrat yang memangku banyak kunci.
Dia ingin menggambarkan sosok yang memiliki banyak kekuasan. Dalam karya yang dibuatnya, dia berusaha untuk selalu menggunakan simbol-simbol yang mudah dibaca.
"Kalau pun perempuan tapi melampaui kekuasannya dan tidak bijak itu tetap bahaya," tegasnya.
Menurutnya, dalam dunia seni laki-laki jauh diuntungkan karena di masyarakat memiliki banyak kebebasan. Meski begitu, Harbani ingin terus berkarya sembari memperbaiki kekurangannya.
"Jadi perempuan di dunia seni itu berat. Kadang tidak dianggap dan diperhitungkan. Tapi saya ingin bertahan," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita