SLEMAN - Agung Susila adalah sosok di balik Pendhapa Jemparingan. Sebuah lokasi di Cageran, Tamanmartani, Kapanewon Kalasan yang menjadi lokasi wisata edukasi jemparingan.
Baginya, jemparingan bukan hanya soal olahraga atau budaya. Namun, lebih pada soal olah rasa. "Ada pakemnya dan tidak bisa sembarangan," tegasnya.
Laki-laki 48 tahun ini menjelaskan, sebenarnya baru mengetahui jemparingan pada tahun 2013.
Lalu mulai menekuninya pada tahun 2014. Berawal dari hobi kini jemparingan dia sebut sebagai profesi.
Dia mengaku pernah menjadi atlet panahan tradisi yang berpartisipasi dalam Porda tahun 2015 dan 2017. Meski begitu, dia tidak terlahir dalam keluarga yang menggeluti jemparingan.
"Tapi sebagai orang Jawa, saya yakin simbah buyut dulu pernah jadi pemanah. Saya sendiri benar-benar menekuni ini," jelasnya.
Kegiatan Agung bisa dilihat pada unggahan di berbagai akun media sosialnya. Mulai dari Instagram, TikTok, Facebook, hingga YouTube.
Perkembangan teknologi ini dia gunakan sebagai alat untuk mengenalkan jemparingan khususnya pada anak muda.
"Umumnya mereka tertarik karena biasanya panahan beridiri tapi ini duduk," katanya.
Di Pendhapa Jemparingan ini para pengunjung bisa melihat berbagai karya gendewa panah yang Agung buat sendiri.
Dia menyebut busur panah ini adalah pusaka. Sehingga pembuatannya tidak bisa sembarangan.
"Saya buat satu-satu. Jadi kalau ada yang beli saya enggak ada karena dibuat khusus," kata lulusan jurusan kriya kayu Institut Seni Indonesia (ISI) ini.
Kayunya harus dari jenis bambu petung panjang dan harus didiamkan setidaknya satu tahun.
Sementara untuk pegangannya, bisa dibuat dengan kayu bebas atau pun disesuaikan dari keinginan pemesan.
Selain itu, setiap gendewa ini harus serasi dengan tinggi badan pengguna, jenis kelamin, dan pengalaman masing-masing.
"Meski pakemnya dianggap ribet tapi justru itu yang saya pertahankan biar enggak pudar," tambahnya.
Agung menambahkan, para pengunjung yang datang bisa turut mencoba memainkan jemparingan.
Sebelumnya, Agung juga akan menceritakan soal sejarah dan filosofi agar para pengunjung bisa lebih memaknai olahraga Jawa ini.
"Kalau umumnya jemparingan di luar, di sini justru di dalam ruangan," tambahnya. (del/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita