SLEMAN - Pembangunan infrastruktur penting dalam menunjang kegiatan masyarakat. Namun, pembangunan nonfisik tak kalah krusial. Demi meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045, Ketua Komisi A DPRD Sleman Guntur Yoga Purnawan ST mendorong pemerintah daerah meningkatkan program pemberdayaan masyarakat. Artinya, pembangunan nonfisik harus ditingkatkan.
Guntur mengimbau pemerintah daerah tidak hanya fokus pembangunan fisik. Meskipun hal tersebut tetap penting untuk dilakukan. "Pembangunan nonfisik juga harus jadi perhatian. Kegiatan pelatihan pemberdayaan masyarakat perlu diperbanyak," ungkapnya Senin (10/2/2025).
Pada prinsipnya, lanjut Guntur, Komisi A siap mengawal anggaran untuk program penguatan kapasitas SDM di Kabupaten Sleman. Agar bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat lebih variatif. Hal ini juga dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat.
Guntur berharap, melalui beragam kegiatan pelatihan usaha dan sejenisnya bisa tercipta lapangan kerja baru. "Setidaknya para peserta pelatihan ke depan bisa mandiri atau berwirausaha," tutur mantan lurah Jogotirto, Berbah, tiga periode itu.
Semakin banyak warga mampu berwirausaha, maka angka pengangguran dan kemiskinan bisa lebih ditekan. Hal itulah yang mendasari Guntur terus mendorong pemerintah daerah meningkatkan program pembangunan nonfisik.
Kegiatan pelatihan pemberdayaan masyarakat bisa beragam. Misalnya pelatihan keterampilan pembuatan makanan olahan, kerajinan tangan, hingga manajemen produksi. Pelatihan keterampilan digital marketing juga sangat penting. "Semua bentuk keterampilan yang berbau digital harus bisa dikuasai. Supaya selaras dengan perkembangan zaman," ucapnya.
Adapun pelaksanaan kegiatan pelatihan keterampilan bisa melalui kelompok-kelompok masyarakat. Seperti kelompok tani, peternak, karang taruna, kelompok wanita tani, dan lainnya. Jadi bukan hanya ditujukan bagi warga yang telah memiliki pengalaman seperti pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). "Warga yang belum punya pengalaman justru harus lebih didorong. Siapa tahu mereka malah bisa membangun UMKM sendiri," ujarnya.
Guntur menegaskan, inti dari pembangunan fisik maupun nonfisik adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, dua hal tersebut harus seimbang. Agar warga Kabupaten Sleman selalu siap menghadapi kondisi perekonomian negara, baik secara makro maupun mikro. Agar masyarakat mampu bersaing di era perdagangan bebas. Terutama dalam dunia digital. "Itu semua harus dimulai sejak sekarang. Jangan sampai terlambat," tandasnya.
Hal senada diungkapkan Anggota Komisi A DPRD Sleman Yani Fathu Rahman SPdI. Menurutnya, pembangunan SDM harus seimbang dengan program fisik. Bahkan, pemerintah perlu mengubah persepsi dan paradigma masyarakat terkait makna pembangunan. Bahwa pembangunan tidak selalu berhubungan dengan fisik atau infrastruktur. "Tidak semata-mata itu. Pembangunan manusia harus terus digalakkan tanpa meninggalkan pembangunan fisik," tegas ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Kabupaten Sleman.
Sangat disayangkan, lanjut Yani, jika APBD Kabupaten Sleman yang mencapai lebih dari Rp 3 triliun hanya mengedepankan pembangunan fisik dan melenakan pengembangan kualitas dan kapasitas SDM. Itu tidak boleh terjadi.
Pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas pembangunan pemerintah daerah. Supaya kehidupan masyarakat tidak stagnan. "Bahkan bila perlu harus ada inovasi baru," usul tokoh asal Wukirsari, Cangkringan.
Inovasi baru tersebut misalnya beasiswa pelajar Kabupaten Sleman ke luar negeri. Hal itu perlu terobosan. Agar warga Sleman, khususnya dari kalangan keluarga kurang mampu, bisa meraih prestasi setinggi mungkin. Yang hasilnya juga untuk pembangunan Kabupaten Sleman.
Yani berpendapat, pembangunan SDM juga bisa dilakukan dengan program peningkatan literasi sejak anak usia dini. Melalui pengembangan perpustakaan. Kendati demikian, Yani mengakui bahwa hal tersebut harus dilakukan secara sistematis. Tidak bisa instan. (yog)
Editor : Sevtia Eka Novarita