Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jumlah Pembuangan Sampah Liar Meningkat hingg 18 Ton per Minggu, Masyarakat Sleman Diminta Berempati

Delima Purnamasari • Rabu, 12 Februari 2025 | 06:00 WIB

BERSERAKAN: Pengendara sepeda motor saat melewati tumpukan sampah liar yang dibuang di samping Selokan Mataram Selasa (11/2).
BERSERAKAN: Pengendara sepeda motor saat melewati tumpukan sampah liar yang dibuang di samping Selokan Mataram Selasa (11/2).
 

SLEMAN - Jumlah pembuangan sampah liar di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan. Dahulu, pembuangan sampah liar hanya 7-8 ton seminggu. Namun kini, meningkat hingga 18 ton per minggu. 

"Harapan kami masyarakat mau berempati. Sampah kalau dikelola mandiri itu jauh lebih ringan," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Persampahan Kabupaten Sleman Rita Probowati.

 Baca Juga: Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 Menyerahkan 222 Serat Palilah, Tanah Boleh Dipakai dan Tidak untuk Dijual

Rita menjelaskan, ada banyak lokasi yang kerap menjadi lokasi pembuangan sampah liar. Mulai dari sepanjang ring road, di depan Pasar Condongcatur, area underpass Kentungan, hingga di barat Pakuwon Mall. 

 

"Aparat setempat dan masyarakat sudah minta baliho dilarang buang sampah. Tapi sudah dipasang tetap saja," katanya. 

 Baca Juga: Respon Cepat! Polresta Jogja Aktifkan Posko Kejahatan Jalanan Jelang Ramadan: JPW Soroti Petugas Harus Aktif Merazia

Menurutnya, pengawasan pembuangan sampah liar ini sudah digiatkan oleh aparat setempat. Mereka bahkan melakukan patroli di malam hari. 

 

"Tahun kemarin ada empat orang yang sampai dibawa ke pengadilan. Ada yang didenda sampai satu juta," jelasnya. 

 Baca Juga: Demi Efisiensi, Pemkot Jogja Matikan Komputer di Hari Libur dan Keran Air: 'Budgetnya Cukup Banyak'

Rita menegaskan, tingginya jumlah sampah liar ini menambah beban pemerintah Kabupaten Sleman. Pihaknya tidak ada pilihan selain ikut mengangkutnya ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). 

 

"Tetap kami angkut. Itu bikin kami jadi berat. Kebanyakan isinya organik, bahkan kotoran kucing," jelasnya. 

 

Dia mengatakan, ketika mengangkut sampah liar para petugas harus mengecek isi masing-masing kantong. Barang-barang yang membahayakan dalam proses produksi refuse derived fuel (RDF) di TPST harus ditinggal. 

 

"Kalau ada kaca dibawa ke TPST nanti kena pegawai bahaya. Kotoran kucing juga ditinggal untuk mencegah TPST bau," katanya. 

 Baca Juga: Demi Efisiensi, Pemkot Jogja Matikan Komputer di Hari Libur dan Keran Air: 'Budgetnya Cukup Banyak'

Untuk itu, Rita mengimbau agar masyarakat mengurangi sampah. Misalnya, tidak menggunakan plastik sekali pakai, melakukan pemilahan, dan pengomposan. 

 

"Kami mohon kesadaran masyarakat. Mengelola sampah dengan tidak ada tempat pembuangan itu sulit. RDF itu juga sesuatu yang baru," jelasnya. 

 Baca Juga: PSIM Jogja Tandang ke Kandang Deltras FC, Erwan: Targetnya Jelas, Promosi Liga 1!

Sementara itu, salah satu warga Sleman Maria Dewi Sekaringtyas mengaku, belum melakukan pemilahan sampah. Dia menilai proses ini masih rumit dan menyulitkan. 

 

"Sampah dijadikan satu saja dan nanti diambil oleh petugas," katanya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#unit pelaksana teknis daerah #Pembuangan Sampah Liar #lokasi #pasar condongcatur #ring road #UPTD #persampahan #Sampah #Refuse Derived Fuel (RDF) #Sampah Liar #Kabupaten Sleman #masyarakat #tempat pengolahan sampah terpadu