SLEMAN - Hajatan pernikahan di rumah warga Krasakan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, berbuntut keracunan massal Minggu (9/2/2025). Korban dilaporkan mencapai 130 orang dan dimungkinkan terus bertambah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Cahya Purnama mengatakan, keracunan terjadi sejak pagi. Dia menegaskan, pihaknya bersama tim Field Epidemiology Training Program (FETP) sudah berada di lapangan.
"Puskesmas Tempel 1 sudah buka posko kesehatan di rumah warga. Lintas sektor juga sudah buka posko laporan di kapanewon," katanya saat dihubungi Minggu (9/2/2025).
Informasi sementara, korban keracunan telah dirujuk ke rumah sakit dan puskesmas terdekat. Di RSUD Sleman, ada 40 orang yang semuanya telah pulang dan mendapatkan pengobatan.
Selanjutnya di RS Queen Latifa, ada enam orang dan semua pulang. RS PKU Muhammadiyah Sleman sebanyak 19 orang pulang dan satu rawat inap. Kemudian RSUD Muntilan dua orang dan sudah pulang.
RSA UGM dengan tiga orang dan sudah pulang. RS JIH dua orang opname. "Saat ini masih proses observasi dan pemeriksaan sembilan orang," tambah Cahya.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencan Daerah (Pusdalops BPBD) Sleman, pada Sabtu (8/2/2025) saat siang hari ada hajatan nikahan. Lalu pada pukul 19.00 sebagian warga merasakan demam, pusing, menggigil, dan diare.
Kepala Puskesmas Tempel 1 Diana Kusumawati menyebut, awalnya korban hanya 26 orang. Ketika membuka posko kesehatan di depan Klinik Pratama HM Sosromiharjo, korban terus bertambah.
Mereka menghadiri satu hajatan yang sama. "Mayoritas diare dan demam lalu lemas," katanya. Dari jumlah 130 itu, hanya 38 orang yang tidak ke rumah sakit. Sementara enam orang di antaranya harus menjalani rawat inap.
"Yang tidak dirawat, obat yang diberikan diminum dulu. Kami sarankan untuk makan makanan yang lunak dan mudah dicerna," katanya.
Diana juga menyebut, telah diambil sampel pada beberapa makanan hajatan. Mulai dari siomay, sate ayam, es krim, bakso, hingga krecek. "Sementara yang dari rumah sakit dan masih lemas kami asesmen di posko juga. Kami infus," tambahnya.
Panewu Tempel Agung Dwi Maryoto menjelaskan, undangan hajatan untuk 200 orang. Namun estimasi pengunjung ada 500 orang. "Mayoritas memang dari warga kami," katanya.
Dia mengaku telah berkomunikasi dengan pihak yang membuat hajatan. Namun makanan yang disediakan berasal dari pesanan katering. Agung berharap kondisi bisa teratasi.
Terlebih sudah banyak korban yang sudah pulang ke rumah. "Kalau untuk bantuan kami belum bisa memberikan penjelasan. Yang penting ditangani dulu," sebutnya.
Sementara itu, warga menyebut tidak semua tamu mengalami keracunan. Salah seorang warga yang datang ke hajatan Irvan Ahmadi menjelaskan, hanya memakan bakso, nasi, dan es krim. Hingga saat itu dia tidak merasakan gejala apa pun. "Saya datang tapi tidak kenapa-kenapa, tidak semua kena. Menunya prasmanan, banyak," katanya.
Dia mengatakan banyak warga yang keracunan baru merasakan gejala pada malam harinya seperti mual, diare, pusing, dan demam. "Banyak yang langsung ke rumah sakit. Tapi saat ini sudah banyak yang pulang," ucapnya.
Salah satu korban yang keracunan Sukma Mufiatun mengatakan, gejala yang dirasakan awalnya buang air berulang-ulang. Selanjutnya, badannya lemas. Saat itu kondisinya sudah lebih baik.
Dia datang ke posko kesehatan dan sudah menerima pengobatan. "Saya makan siomay sama sate. Sampai sekarang masih lemas," kata perempuan 17 tahun itu.
Terpisah, Kapolsek Tempel AKP Gunawan Setiabudi mengatakan, ada 15 personel yang diterjunkan. Seluruhnya berada di posko kesehatan yang dibuka di depan Klinik Pratama HM Sosromiharjo. "Saat ini kami masih fokus untuk mendampingi korban," katanya.
Dia mengaku belum bisa memberikan keterangan soal penanganan hukum persoalan ini. Khususnya soal pendalaman katering sebagai penyedia makanan. "Soal hukumnya nanti dulu," ujarnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita