Di Jalan area TPU Seyegan ini ada berbagai pesan yang ditulis.
Mulai dari "Warga pinggir dalan ora nompo kompensasi ojo banget-banget olehmu gawe bleduk", "Debu bahaya buat anak!!! ", hingga "Uang proyek kemana? Debu di mana-mana!!"
Menurut pantauan Radar Jogja, kondisi jalan di lokasi memang rusak dan banyak lubang.
Terlihat pula banyak truk lalu lalang membawa tanah. Sementara di dekat TPU Seyegan terlihat bukit yang sedang dikeruk.
Salah satu warga sekitar Ispri Indarto menjelaskan, pengedukan bukit ini sudah lama dilakukan.
Sepengetahuannya, tanah dari bukit mayoritas digunakan untuk membangun Tol Jogja-Bawen. Ada pula yang dijual keluar sebagai bahan urug.
"Bukitnya setau saya milik pribadi. Pemiliknya memang membolehkan," ucapnya.
Ispri mengatakan, banyaknya truk yang lalu-lalang membuat jalan yang dulunya mulus jadi rusak parah sepanjang 2,5 km. Selain itu, warga juga terdampak debu.
"Kalau bilang nanti baru disiram dua atau tiga hari, tapi selanjutnya enggak. Harus minta lagi," ucapnya.
Dia berharap kondisi ini bisa segera diatasi. Tidak hanya dengan penyiraman, tetapi juga perbaikan jalan.
"Kalau enggak dipasang tulisan begini, truk juga kebut-kebutan. Kami inginnya masyarakat dipikirkan," keluhnya.
Lurah Margodadi Jalmo Susilodiprodjo menjelaskan, pengerukan bukit ini memang digunakan untuk urug pembangunan jalan tol.
Kerusakan atas jalan yang dipakai ini besok akan menjadi tanggung jawab proyek tol.
"Itu untuk kepentingan nasional, tapi di sisi lain pengguna jalan jadi tidak nyaman," katanya.
Jalmo hanya bisa mengimbau agar pihak tol bisa segera memperbaiki jalan. Sementara bisa dilakukan dengan cara menambalnya.
Sementara itu, General Affair PT Adhi Karya (Persero) Proyek Tol Jogja Bawen, Ghazali mengaku, akan memastikan dahulu tentang persoalan ini.
Dia menyebut belum pernah mendapat info pengambilan tanah ini.
"Saya sedang di Jakarta. Insyaallah Selasa saya dan tim akan ke lokasi. Kami survei dulu," katanya. (del)
Editor : Bahana.