Namun, agenda ini ditunda sejak hari kedua dan hanya dilakukan sosialisasi hingga hari Jumat.
Pada hari Senin (3/2) sendiri undian sudah dilaksanakan.
Diawali dengan sosialisasi penataan dan aturan lalu pengundian. Dalam sehari pedagang dibagi menjadi tiga sesi.
Salah satu pedagang Pasar Godean Paryanto menjelaskan, sebagian pedagang menolak adanya undian.
Mereka hanya diberi nomor, tetapi tidak mengetahui lokasi pasti untuk berdagang.
Hal ini lantaran di tiap-tiap lapak belum diberi tanda nomor.
Sehingga, pedagang tidak bisa mencocokkan nomor yang diterima dengan lokasi lapak.
"Pedagang khawatir ada permainan di belakang. Jadi nanti ditukar atau dipindah ke lokasi lain," kata Paryanto.
Dia sendiri juga mengeluhkan, lantai tiga Pasar Godean yang tidak mencukupi untuk pedagang tlasaran. Jumlah mereka mencapai 350, tetapi maksimal lokasi hanya bisa menampung 150 pedagang saja.
"Jatahnya cuma dikasih satu kali satu meter. Jualannya gimana? Padahal pasarnya bagus seperti ini," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Tradisional Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Raminta menegaskan, tidak ada permainan apa pun dalam pengundian lapak ini.
Data maupun penataan dari pasar sudah pasti dan tetap.
"Kami juga sudah ada saksi dari babinsa, kapanewon, dan dinas sendiri," katanya.
Di sisi lain, pihaknya juga tidak bisa memberikan nomor di tiap-tiap lapak karena khawatir pedagang akan pindah secara mandiri sebelum ada komando dari dinas.
Sehingga, pengundian akan dilakukan menjelang fasilitas parkir jadi.
Raminta menegaskan, tetap akan ada jeda waktu antara pengundian dan perpindahan pedagang. Sehingga, mereka akan tetap memiliki waktu yang cukup untuk membuat gledek.
"Pengundian yang baru dilakukan mendekati parkiran jadi. Nanti mungkin dua bulan menjelang pindahan," katanya.
Untuk pedagang hari pertama yang sudah mendapat nomor, Raminta menyebut undiannya tetap berlaku.
Jadi, mereka tidak akan mengikuti undian yang baru.
Sementara terkait kapasitas pedagang tlasaran di lantai tiga, Raminta menyebut banyak pedagang tlasaran yang hanya membawa satu wadah. Selain itu, jam berdagangnya tidak pasti.
"Jadi satuan hitungannya agak berbeda. Penataannya nanti akan dibantu paguyuban juga," tambahnya.
Editor : Bahana.