SLEMAN - Prosesi Labuhan Merapi akan kembali digelar Jumat (31/1). Salah satu sosok penting dalam tradisi ini adalah Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau yang akrab disapa Mbah Asih sebagai juru kunci Merapi.
Sehari sebelum prosesi labuhan, dilakukan penyerahan ubarampe di Kantor Kapanewon Cangkringan. Kegiatan ini diawali dengan arak-arakan bregada.
Selanjutnya, Mbah Asih menerima sebelas jenis ubarampe khusus dari keraton. Terdiri dari satu lembar Nyamping Cangkring, satu lembar Kawung Kemplang, satu lembar Semekan Gadhung
Selanjutnya, satu lembar Semekan Gadhung Mlathi, satu lembar Semekan Banguntulak, satu lembar Kampuh Poleng Ciut, satu lembar Dhesthar Daramuluk.
Lalu terdapat satu lembar Paningset Udaraga, satu wadhah Sela Ritus Lisah Konyoh, satu amplop Yatra Tindhih, dan sepuluh biji Ses Wangen.
"Saya sebagai juru kunci juga menyiapkan selametan. Utamanya akan memimpin doa," ujarnya.
Mbah Asih menjelaskan, persiapan untuk Labuhan Merapi ini dilakukan sejak dua bulan lalu. Utamanya untuk membersihkan jalur yang akan dilewati.
"Namanya di hutan banyak rumput yang nutup. Saya bersihkan bersama teman-teman," katanya.
Anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Mbah Mardijan dan Mbah Ponirah ini menyebut, tidak belajar secara khusus untuk memimpin prosesi ini. Hal terpenting adalah niat dalam memanjatkan permohonan pada Tuhan.
Hanya saja dia sudah sering ikut kegiatan sang ayah sebelumnya. Mbah Asih mengatakan tidak ada perbedaan pada prosesi labuhan kali ini dengan sebelum-sebelumnya.
Baca Juga: Buntut Tragedi di Pantai Drini, Polisi Segera Panggil Kepsek SMPN 7 Mojokerto dan Travel Agen
"Ini hajat dalem keraton. Harapannya agar Yogyakarta damai, aman, tentram, dan dijauhkan dari malapetaka," katanya.
Saat ditanya soal kondisi Gunung Merapi kali ini, Mbah Asih menyebut situasi aman. Meski terkadang mengeluarkan lava, dia menyebut ini merupakan aktivitas umum dari gunung yang aktif.
"InsyaAllah kondisi Merapi buat besok aman," katanya.
Mbah Asih bercerita, tantangan terbesar menjadi Juru Kunci Merapi justru persoalan Moral. Dari sebelumnya yang bisa bebas melakukan banyak hal, sekarang jadi harus lebih hati-hati.
"Dulu sebelum dituakan juga sengomong-ngomongnya. Tapi sekarang kalau bercanda pun harus tahu batas," ucapnya.
Dia menilai setiap masyarakat memiliki budayanya masing-masing. Sehingga, harapannya bisa terus dipahami dan dijalankan.
"Budaya itu melekat di hati masing-nasing orang. Mohon saling mengerti," pesannya.
Setelah prosesi penyerahan ini, ubarampe diarak menggunakan bregada dan jeep. Mereka menuju Pendopo Petilasan Mbah Maridjan. Malam hari sebelum dilakukan labuhan, turut dilakukan doa dan kenduri. Lalu dilanjutkan dengan pertunjukan wayang semalam suntuk.
Esok hari ubarampe akan diarak menuju Bangsal Srimanganti. Acara diperkirakan akan mulai pada pukul 06.00. (del)