Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

HPP Gabah Telah Ditentukan, DP3 Kabupaten Sleman Imbau PPL Bantu Tingkatkan Kualitas Produksi Petani

Delima Purnamasari • Senin, 27 Januari 2025 | 04:30 WIB

HARGA NAIK: Petani saat mulai memanen padi di lahan pertanian Kabupaten Sleman. Saat ini, HPP gabah telah naik menjadi Rp 6 ribu per kilogram.
HARGA NAIK: Petani saat mulai memanen padi di lahan pertanian Kabupaten Sleman. Saat ini, HPP gabah telah naik menjadi Rp 6 ribu per kilogram.
 

SLEMAN - Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah telah ditentukan. Untuk itu, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman berharap hal ini bisa mendorong kesejahteraan petani. 

HPP gabah kering di petani naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 per kilogramnya. Dengan kualitas kadar air maksimal 25 persen dan kadar hampa maksimal 10 persen. Kebijakan ini berlaku sejak 15 Januari lalu. 

Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengatakan, di sini para penyuluh pertanian lapangan (PPL) memiliki peran vital. Mereka adalah petugas pengumpul data harga gabah sesuai HPP atau belum. 

 Baca Juga: Musim Menetas, Damkarmat BPBD Kulon Progo Menerima Sejumlah Laporan Ular Masuk ke Rumah Warga

"PPL harus jeli memahami kriteria standar data sehingga menghasilkan informasi yang valid," katanya. 

Dia juga berharap, PPL dapat mengupayakan peningkatan pengetahuan dan keterampilan budi daya petani. Sehingga, kuantitas dan kualitas produksi bisa lebih tinggi. 

Terlebih, pada musim penghujan intensitas cahaya matahari lebih sedikit. Sementara hal tersebut juga memengaruhi isi jumlah gabah. Utamanya pada 30-45 hari sebelum panen. 

 Baca Juga: Elang Jawa Dipermalukan Kabau Sirah di SSA, Turun ke Peringkat 14 Klasemen

"Penerapan prinsip good handling practices dapat menghasilkan mutu gabah yang tinggi," tambahnya.  

Salah satunya dengan menerapkan teknologi dalam bidang pertanian. Misalnya, power thresher untuk merontokkan padi atau combine harveste untuk memanen. 

 

"Itu dilakukan untuk meningkatkan keuntungan petani dengan menurunkan tingkat kehilangan hasil sampai di bawah dua persen," tambahnya. 

 

Suparmono juga turut mengimbau petani untuk melakukan proses pembersihan sebelum dijual ke Bulog. Terutama apabila gabah hasil panen memiliki butir hampa, kotoran, dan butir rusak yang cukup besar. 

 

Sementara itu, salah satu petani di Kabupaten Sleman Suranto menuturkan, penting untuk mempertimbangkan kerusakan tanah yang terjadi. Apabila dulu satu hektare lahan bisa menghasilkan padi hingga 25 ton, kini maksimal hanya 18 ton. 

 

“Keuntungan tiap seribu meter sekitar Rp 750 ribu sampai Rp1 juta sekali panen. Minim sekali,” keluhnya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#produksi #PPL #Harga Pembelian Pemerintah #Sleman #gabah kering #Penyuluh pertanian lapangan #hpp #DP3 #gabah #Petani #Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan