Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) meminta agar dapur melakukan pemilahan.
Kepala DLH Kabupaten Sleman Epiphana Kristiyani menyebut, pengelolaan sampah MBG memang jadi tantangan tersendiri.
Hal ini lantaran TPST Kabupaten Sleman hanya diperuntukkan untuk mengelola sampah residu anorganik.
"Jadi tanggung jawab DLH, tapi itu tidak sejak awal. Jadi kami tidak pernah memperkirakan sebelumnya," ujar Epiphana saat ikut dalam tinjauan program MBG di SD Negeri Sinduadi Timur, Jumat (17/1).
Dia menyebut masih memikirkan skema terbaik. Sementara untuk saat ini, dia masih menunggu jumlah pasti sampah yang dihasilkan.
"Datanya masih awal. Nanti setelah seminggu pelaksanaan boleh wawancara lagi," katanya.
Walau demikian, dia tidak menampik akan adanya potensi penambahan jumlah sampah yang besar. Hal ini mempertimbangkan kapasitas satu dapur sekitar 3.000 porsi.
Terlebih, apabila mempertimbangkan jumlah siswa dari PAUD hingga SMP yang sudah lebih dari 165 ribu. Belum termasuk tingkatan SMA dan pondok pesantren.
"Jadi panjenengan bisa bayangkan sampahnya seberapa. Itu tidak hanya sehari kaya orang punya gawe. Ini setiap hari," ucapnya.
Sebelum adanya kebijakan nanti, Epiphana menyebut saat ini sampah sisa ditawarkan pada orang-orang yang mau mengambil.
"Ada yang ngambil, tapi kemudian tidak. Jadi tidak rutin. Kalau rutin alhamdulillah tidak harus memikirkan," katanya.
Epiphana menyebut sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan dapur untuk memilah sampah.
Baik itu sampah sisa makanan, sampah sayuran dan buah yang masih segar, hingga sampah kardus dan plastik. Hal ini diharapkan bisa memudahkan proses pengolahan nantinya.
"Mungkin nanti pakai skema kerja sama dengan pemelihara maggot atau siapa, itu nanti," ucapnya. (del)
Editor : Bahana.