Acara yang diselenggarakan sejak Jumat-Sabtu (10-11/1) ini jadi upaya memupuk semangat kebinekaan.
Mawayang V yang diselenggarakan di Balai Budaya Minomartani, Kapanewon Ngaglik ini membawa tema Merangkul Generasi Melalui Ragam Wayang.
Acara dimulai pukul 08.00 dan terus berlanjut hingga pukul 24.00.
Ragam wayang yang dihadirkan mulai dari Wayang Babad Banyumasan, Wayang Beber, dan Wayang Cina Jawa. Lalu ada Wayang Golek Menak, Wayang Golek Sunda, dan Wayang Kancil.
Selain itu, ada Wayang Krucil, Wayang Kulit Menak, Wayang Madya, dan Wayang Purwa Surakarta. Selanjutnya terdapat Wayang Purwa Yogyakarta, Wayang Potehi, Wayang Rai Wong, serta Wayang Suluh.
Ketua Pelaksana Mawayang V Andhi Wisnu Wicaksono menjelaskan, gelaran ini diharapkan bisa memberikan gambaran tentang beragam wayang di seantero Jawa. Di sini panitia terkhusus menyasar pada kelompok seni.
"Peserta kelompok seni ada yang dari Bandung, Jombang, Kebumen, sampai Karanganyar," ujar Andhi saat ditemui Sabtu (11/1) malam.
Mereka membawakan cerita yang berbeda-beda. Misalnya, Nyi Siti Marfu'ah dengan tema Sandungan Alam yang menyoroti masalah sampah. Sementara Ki Senja Mendi Pangestu dengan tema Adeging Negara Majapahit yang memupuk semangat nasionalisme.
"Memang dekat dengan cerita masyarakat. Misal cerita gagalnya pendidikan Gandari yang mengakibatkan Kurawa menjadi angkara murka. Itu sebenarnya persoalan pola asuh," ucapnya.
Di sisi lain, penyajinya berasal dari lintas generasi. Mulai dari anak-anak, mahasiswa, dan lansia. Uniknya, juga terdapat dalang perempuan yang jarang ditemui.
"Budaya itu lebih banyak ditularkan oleh ibu. Jadi ketika ibu berbudaya maka anaknya juga akan mengikuti," ucapnya.
Andhi menilai, dari lakon yang disajikan penonton juga dapat melihat adanya proses akulturasi budaya lokal. Baik itu dengan agama Islam, budaya Cina, hingga nasionalisme.
"Memang 14 ragam wayang belum cukup menggambarkan semuanya. Tapi bisa jadi sarana memupuk semangat kebinekaan dan rasa cinta pada wayang," ucapnya.
Dia menjelaskan, membuat gelaran dua hari penuh jelas tidak mudah. Apalagi tiap-tiap jenis wayang memiliki kebutuhan yang bebeda.
Karena itu, sebelumnya panitia telah menyelenggarakan Workshop Nata Gelaran Wayang.
"Wayang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Untuk pendidikan, hiburan, sampai menanamkan cinta kasih," jelasnya.
Sementara itu, dalang Siti Marfu'ah mengatakan, salah satu tantangannya adalah saat memainkan wayang tokoh laki-laki karena suaranya nyaring dan kecil. Namun, dia menilai dalang perempuan selalu memiliki keunikan tersendiri.
"Apapun yang keliatan mata pasti bisa dipelajari. Jangan takut mencoba," uucapnya. (del)
Editor : Bahana.