Mereka menuntut agar Kepala Dukuh Koroulon Kidul Tri Mulyanto dipecat dari jabatannya.
Di sini mereka membawa berbagai macam baliho bertuliskan kalimat protes. Mulai dari "Wayahe ganti dukuh," "Kami tidak mau pemimpin newsyahke," maupun " Tri mulya lebih suka janda dari pada bekerja."
Salah satu warga Purwanto menjelaskan, tuntutan warga ini utamanya karena Tri Mulyanto yang melakukan tindak asusila.
Dia tertangkap tangan tengah menginap di salah satu rumah seorang perempuan yang bukan istrinya pada Desember 2024.
"Perselingkuhan itu sudah delapan bulan. Sudah ditegur warga, tapi tidak diindahkan. Akhirnya terjadi penggrebekan," jelasnya.
Purwanto menjelaskan, kinerja Tri Mulyanto juga buruk. Salah satunya karena tidak pernah menyelenggarakan rapat kring atau pun membuat program yang berdampak.
"Ini mencoreng nama baik Dusun Koroulon Kidul. Jadi harus segera dipecat," tegasnya.
Dia mengatakan warga akan terus melakukan upaya serupa. Hingga akhirnya tuntutan mereka bisa dipenuhi.
Sementara itu, Lurah Bimomartani Tutik Wahyuningsih menyatakan prihatin atas persoalan ini. Hal ini lantaran masyarakat yang langsung terkena dampaknya.
Walau demikian, tuntutan masyarakat tidak bisa serta-merta dia penuhi. Ada aturan dan prosedur yang harus dipenuhi.
"Sampai saat ini kami tidak berdiam diri. Kami sudah koordinasi dan mediasi dengan tokoh masyarakat," jelasnya.
Dia menjelaskan kepala dukuh yang telah menjabat selama delapan tahun tersebut sudah diberikan pembinaan. Kini, pihaknya tengah membuat tim khusus terkait persoalan ini.
"Dukuh mengakui hanya berkunjung. Tapi nanti akan dibuktikan oleh tim khusus yang mencari data. Aturannya memang seperti itu," jelas Tutik.
Tutik juga menegaskan, persoalan ini tidak akan mengganggu jalannya pemerintahan di Dukuh Koroulon Kidul.
Pemerintah Kalurahan yang akan terjun langsung apabila masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhannya.
Radar Jogja mencoba menghubungi Tri Mulyanto. Namun, hingga berita ini diunggah belum ada konfirmasi dari yang bersangkutan. (del)
Editor : Bahana.