Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gayung atau Takaran Jadi Saksi Puluhan Tahun Gantungkan Hidup dari Jualan Minya

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 5 Januari 2025 | 18:55 WIB

 

 

AGUNG DWI PRAKOSO/RADAR JOGJA  BARANG JADUL: Tri Sarjimah sedang menakar minyak tanah dengan canting literan untuk dijual di warung kelontong miliknya, Jumat (3/1).
AGUNG DWI PRAKOSO/RADAR JOGJA BARANG JADUL: Tri Sarjimah sedang menakar minyak tanah dengan canting literan untuk dijual di warung kelontong miliknya, Jumat (3/1).
 

 

Gayung atau canting minyak literan sempat menjadi barang pokok bagi para pedagang minyak rumahan pada masanya. Kini, barang itu hanya sebagai koleksi dan kenang-kenangan bagi para pemiliknya.

Tri Sarjimah, pemilik warung kelontong di daerah Sleman masih menyimpan canting minyak literan ini. Ia membeli barang itu sekitar tahun 2005 di pasar tradisional di Prambanan. Ia mengingat nama toko tempat ia beli bernama Sari Bumi."Dulu untuk menjual minyak tanah, menyambung hidup setelah Pak Topo (suaminya) meninggal," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (3/1).

Canting minyak mempunyai ukuran yang bervariasi. Mulai satu liter, setengah liter hingga seperempat liter. Ada juga ujuran besar yakni segayung dan setengah gayung. Saat itu harga canting yang ia beli sekitar Rp 25 ribu.

Walaupun saat ini sudah sangat berkurang penjualan minyak tanah, kadang ia masih memanfaatkan canting untuk menakar bensin ataupun minyak tanah. "Kalau mau beli canting atau kulakan minyak tanah, saya harus bersepeda kurang lebih 7 km," tuturnya.

Ia menceritakan, dengan bersepeda ia harus menenteng beberapa jeriken kosong sebagai wadah minyak tanah menuju pasar. Saat itu banyak rumah yang masih memakai kompor minyak, bukan gas. Jadi warung miliknya terbilang ramai. "Belum ada gas, jadi minyak tanah laris bisa buat pengobatan anak," bebernya.

Memori canting dan penjualan minyak pada masa itu tidak terlepas dari ingatan tentang anaknya yang mengalami sakit kejiwaan. Setelah ditinggal suaminya, anak laki-lakinya mengalami sakit mental hingga harus berobat di banyak tempat dan memakan biaya tidak sedikit. "Hasil dari jualan salah satunya untuk pengobatan itu sampai 2013 anak saya meninggal," jelasnya.

Setelah gempa bumi 2006, ia menambah barang yang dijual di warungnya. Tidak hanya minyak tanah, melainkan juga bensin literan dan beberapa kebutuhan rumah tangga lain. Selama kurang lebih 20 tahun itu ia konsisten berjualan di rumahnya.

Kini, dagangannya bertambah lengkap, bahkan menjadi pangkalan gas 3 kg atau akrab dengan sebutan gas melon. "Bermula dari minyak tanah dan bensin itu, alhamdulilah saat ini perlahan berkembang," jelasnya. (oso/laz)

 

Editor : Din Miftahudin
#minyak goreng #sembako #timbangan #minyak tanah