SLEMAN - Usianya sudah meginjak 72 tahun. Namun, Harti Buryaningsih terus konsisten memberikan edukasi soal bahaya kanker.
Berawal dari ikut kegiatan penyuluhan kanker yang dilakukan oleh salah satu lembaga di Jakarta. Harti akhirnya memilih mendirikan sendiri organisasi serupa bernama Yayasan Edukasi Kanker Indonesia. Edukasi kanker sendiri telah menjadi kegiatannya selama 22 tahun terakhir.
"Masyarakat banyak pasif, padahal di perut atau payudaranya mulai ada benjolan," ucapnya.
Dia melihat, banyak masyarakat baru melakukan pengobatan ketika kankernya sudah menuju stadium akhir. Hingga akhirnya harus menjalani operasi, kemoterapi, bahkan tak jarang bisa menyebabkan kematian.
"Ketika datang ke dokter saat stadium akhir itu proses pengobatannya jadi panjang," ucapnya.
Walau demikian, dia mengaku memberikan edukasi pada masyarakat bukanlah hal mudah. Hal ini membutuhkan proses panjang untuk akhirnya membuat masyarakat bisa mengubah cara pandang dan gaya hidup.
"Kadang kalau ke perkumpulan PKK, mereka lebih suka dengan sosialisasi masak atau kegiatan konsumtif lain. Ketika saya mau sosialisasi belum tentu diterima," jelasnya.
Harti mengaku bersyukur dengan adanya media sosial yang bisa memudahkan kerjanya. Dia sendiri aktif memberikan pesan melalui Instagram, TikTok, dan YouTube.
Pesan yang disampaikan sendiri utamanya menyasar pada perempuan. Khususnya terkait kanker payudara dan serviks.
"Ketika bertemu dengan masyarakat yang menderita kanker, saya dampingi dan bantu antar ke rumah sakit," jelasnya.
Baginya, membantu orang yang kesulitan selalu memberikan kesenangan sendiri. Meski bukan seseorang yang belajar pada bidang kedokteran, dia ingin penderita kanker bisa tertangani dengan baik.
Ke depan, Harti menjelaskan ingin melebarkan sayap yayasannya. Dia ingin memiliki cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga, pengetahuan soal kanker bisa semakin luas tidak hanya di Jogjakarta saja.
"Apabila diketahui lebih dini kanker bisa disembuhkan dengan baik. Kanker jadi momok itu karena sudah terlanjur parah," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita