SLEMAN - Libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) membawa berkah bagi wisata jip Merapi. Sebab jumlah penyewanya bisa mencapai 15.000 orang per hari. Mengantisipasi adanya kemacetan di jalur wisata ini, berbagai upaya telah disiapkan.
Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat Dardiri menjelaskan, antisipasi kemacetan merupakan upaya untuk menjaga kenyamanan para wisatawan. Salah satu yang dilakukan adalah menerapkan sistem satu arah ketika jalur mulai ramai.
Upaya yang lain adalah menerapkan sistem buka tutup. Dardiri mencotohkan salah satu titik rawan macet adalah menuju arah Kali Kuning karena ada pos retribusi.
"Kalau padat, kami arahkan ke Kampung Grogol. Jadi tidak timbul masalah karena macet semua," ucapnya Rabu (25/12/2024).
Sebab saat ini, dari total 1.500 jip, ada sekitar 1.300 armada yang beroperasi. Dia juga menuturkan, selama Nataru ini turut ada kenaikan harga, dari Rp 400.000 menjadi Rp 450.000.
"Kenaikan ini dari 20 Desember sampai 5 Januari. Selama ini tidak kami naikkan dan baru coba saat ini," tambahnya.
Terkait lahan parkir di setiap destinasi, dia mengatakan banyak yang sudah dilebarkan. Persoalannya tinggal di pintu keluar-masuk destinasi itu sendiri.
"Jadi harus koordinasi terus dan kami monitor. Kami bekali semuanya agar semuanya lancar," katanya.
Saat ditanya soal kelayakan kendaraan, dia menjelaskan semua armada telah mengikuti ramp check. Memang ada sekitar 150 armada yang tidak lolos. Namun, banyak yang sudah melakukan perbaikan dan bisa langsung beroperasi. Misalnya, sabuk pengaman yang kurang atau SIM yang mati.
"Tidak ada toleransi karena kalau melanggar semuanya bisa kena. Ini untuk hajat hidup orang banyak," ucapnya.
Dardiri hanya berharap, wisatawan bisa menikmati perjalanannya dengan jip. Termasuk dengan suasana dan pemandangan area Gunung Merapi.
Sementara itu, salah satu warga Sleman Peni Nur Febriyanti menjelaskan, banyak faktor yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata. Utamanya adalah kebersihan.
"Harus sediakan tempat sampah yang memadai di setiap tempat wisata," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita