SLEMAN - Bekerja umumnya dianggap sebagai tanggung jawab laki-laki. Namun tidak bagi Aslimah. Perempuan penyandang disabilitas fisik ini memilih bekerja demi ketiga anak perempuannya.
Aslimah tidak memiliki kaki. Untuk bergerak dia mengandalkan kedua tangan, kursi roda, dan motor roda tiga miliknya.
"Berpenghasilan itu berarti membantu anak kita untuk menghadapi kerasnya dunia. Enggak bisa sekadar omongan, butuh finansial," ujar perempuan 37 tahun ini.
Perempuan asal Kudus ini bekerja dengan membuat kerajinan dari akar wangi. Kemampuan ini dia dapatkan lewat belajar langsung dari sang suami yang sedari awal merupakan seorang perajin. Ada berbagai bentuk yang bisa dia buat seperti naga, gajah, hingga katak.
Produknya dia jual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 150 ribu. Harga bisa lebih tinggi untuk bentuk yang dipesan khusus, tergantung dari tingkat kerumitan dan ukurannya.
Dalam sehari Aslimah bisa membuat tiga hingga lima produk. Di saat ramai seperti masa liburan, dia akan mengajak keluarganya untuk membantu produksi.
Tugasnya tidak berhenti di situ, tetapi ikut memasarkan kerajinan ini. Dulu dia sempat berjualan di Telaga Putri Kaliurang dan sekarang pindah di area Museum Ullen Sentalu. Aslimah juga menjual karyanya di berbagai toko daring.
"Suami sering bilang lupa kalau saya difabel. Katanya dia merasa saya sama seperti perempuan pada umumnya," ucapnya.
Dia menilai perempuan dan laki-laki adalah makhluk yang sama-sama memiliki bakat. Ketika perempuan tidak bekerja, sama saja dengan menyia-nyiakan bakat itu.
"Bakat itu harus bisa dimanfaatkan selagi masih bisa berdaya. Kalau sakit, nanti baru punya keinginan macem-macem. Sudah telat," ucapnya.
Di sisi lain dia menilai tidak ada makhluk yang bisa memprediksi masa depan sehinga bisa jadi suami mendapatkan halangan. Ketika itu terjadi dan perempuan hanya bisa bergantung, tentu akan sangat sulit menghadapinya. Sehingga, ada atau tidak suami, Aslimah mengatakan perempuan harus bisa menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
"Suami memberikan nafkah sebagai kewajiban itu gakpapa. Kalau dapat nafkah dan penghasilan sendiri itu seneng," katanya.
Hambatan memang selalu ada. Namun bagi Aslimah tantangan terberat justu sikap malas dari diri sendiri. "Hambatan fisik masih bisa disiasati dengan berbagai cara. Tapi kalau tidak difabel, tapi malas pasti enggak jalan," tegasnya.
Ke depan dia berharap bisa semakin memperlebar usahanya. Jadi ada banyak orang yang bisa terbantu entah itu penyandang difabel atau bukan. "Difabel atau tidak semua perlu menghidupi anak-anaknya. Saya ingin merangkul semuanya," tandasnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita