SLEMAN - Lomba burung berkicau digelar di Lapangan Pemda Sleman pada Minggu (15/12/2024). Dalam acara bertajuk BnR Award 2024 ini, ada empat indikator penting yang harus diperhatikan bagi para kicau mania.
Pendiri Yayasan BnR Boy mengatakan, pihaknya menerapkan beberapa strategi dalam pengembangan dunia burung. Mulai dari menyelaraskan lomba yang digelar agar tidak bertabrakan dengan daerah lain, mengatur manajemen tiket agar hadiah lomba bisa maksimal, hingga membuat sistem perlombaan.
"Antusiasme hari ini banyak dari seluruh Indonesia. Ada Kalimantan, Bali, Samarinda. Tiket yang terjual lebih dari 2.000," katanya.
Boy mengatakan, dalam sistem perlombaan ini dia menekankan empat kritera untuk menentukan pemenang. Mulai dari durasi kerja kicauan, irama lagu, volume, dan fisik burung.
Baca Juga: Wakil Sekretaris DPP PDI Perjuangan Utut Adianto Buka Suara soal Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD
"Fisiknya harus sempurna. Tidak bisa kalau bulunya brodol atau kakinya cacat. Kalau itu dilombakan tidak akan dinilai," jelasnya.
Dia juga mengaku membuat sistem penilaian untuk tiap-tiap jenis burung. Di sisi lain, melakukan pendidikan khusus untuk para juri.
Pada kompetisi ini sendiri terdapat berbagai kelas yang dibuka. Misalnya, Kelas United untuk Murai Batu, Holic untuk Cucak Ijo, hingga Oma Sangkar untuk Murai Baru dan Murai Batu Muda.
Boy sendiri mengatakan, kompetisi semacam ini juga membangkitkan semangat penangkaran dan konservasi. Hal ini mengingat burung memiliki nilai ekonomis, gengsi, dan kompetisi.
"Mereka yang menangkarkan burung itu bisa dijual kemana-mana dan mengikuti lomba," katanya.
Salah satu peserta asal Sleman Yogi Hermawan mengaku, mengikuti empat kelas untung burung jenis Punglor. Dia mengaku tidak ada persiapan khusus, tetapi tetap optimis bisa juara.
"Kalau kicauan dan suara burung itu sebenarnya bawaan," ucapnya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita