SLEMAN - Seni ketoprak memadukan drama, tari, musik, bahkan sastra. Oleh sebab itu, dalam setiap pertunjukkannya selalu membutuhkan sosok yang bisa memadukan seluruh unsur ini. Seperti halnya Arya Adhitya, pemimpin produksi dari projek Ketoprak Inovasi Radite Kasih (Kiraka).
Laki-laki berusia 39 tahun tersebut mengaku, awalnya tidak memiliki dasar dalam dunia seni. Sekolahnya justru ada di bidang olahraga yang sempat dia geluti pula dalam dunia kerja.
Hingga suatu ketika sekitar 2006, ada saudara yang mengajaknya untuk ikut bermain ketoprak. Di sana dia merasa menemukan keasyikan tersendiri. Hinga akhirnya merasa bahwa ketoprak adalah minat dan dunianya.
"Di sekolah atau pergaulan itu bahasa Jawanya biasa. Kalau di ketoprak itu ada tatanannya sendiri jadi asyik," ucapnya.
Minat dan semangatnya itu juga sempat membuatnya masuk dalam tim pengembangan ketoprak di tingkat provinsi. Hingga sekitar setahun lalu, bersama teman-temannya sepakat untuk membuat ruang kreatif bernama Kiraka yang setiap Minggu Kliwon pentas di Joglo Resodinomo, Gamping.
Menurut Arya, Ketoprak Inovasi Radite Kasih berarti kelompok kesenian yang selalu berinovasi. Sementara Radite Kasih berarti Minggu Kliwon yang merupakan waktu kelompoknya pentas.
Inovasi jadi semangat dalam komunitas ini. Arya menuturkan, ini merupakan salah satu semangat agar ketoprak diminati oleh generasi muda. Salah satu yang dia coba adalah menggunakan musik lain untuk menggantikan gamelan. Dia juga memadukan ketoprak dengan seni lain.
Salah satunya adalah pada November lalu. Dengan adanya hari wayang, dia bersama timnya memadukan ketoprak dengan wayang. Mereka membawa tema dari Mahabarata, yakni Bima Suci. Di sana mereka menceritakan Bima yang teguh mencari ilmu kesempurnaan dalam hidup.
"Mungkin mereka yang senior menganggap kalau ini tidak sesuai pakemnya. Tapi kami tidak mengubah esensi ketoprak atau wayang," ucapnya.
Dia juga menekankan adanya manajemen pementasan. Di sini dia membiasakan soal jadwal latihan dan persiapan peralatan yang dibutuhkan. Di sisi lain, membagi dan mengkolaborasi setiap tim artistik, tim lampu, tim kostum, pemain, hingga sutradara agar semuanya tertata.
Arya yakin apabila semua anggota telah terbiasa maka hal ini akan membuat persiapan dan pementasan ketoprak jadi lebih efisien. "Jadi beda dengan dulu. Asal dalangnya ngomong apa lalu langsung jalan. Saat ini dibiasakan untuk ditata," ucapnya.
Menurutnya, berbagai inovasi yang dilakukan akan membuat ketoprak tidak akan tergerus oleh zaman. Terlebih, dia menilai ada tren peningkatan dari peminat ketoprak dari generasi muda. Sementara peminat dari generasi tua sebenarnya cenderung stagnan.
"Di Kiraka mayoritas masih berusia 20 tahun. Kami juga kerap melibatkan anak-anak. Hal terpenting itu membuat mereka senang dulu dengan ketoprak," ucapnya. (eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita