SLEMAN - Makam Si Jambu yang terdampak proyek tol Jogja-Bawen mulai direlokasi. Jenazah mulai dipindahkan sejak hari Minggu (1/12) lalu ke lokasi baru yang merupakan bekas kandang kelompok peternak sapi setempat.
Makam Si Jambu sendiri berlokasi di Mladan, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan. Di sini juga terdapat makam dari leluhur setempat, Ki dan Nyai Si Jambu. Sementara untuk makam baru tidak berjarak jauh dari lokasi lama.
Ketua Panitia Pemindahan Makam Karjono menjelaskan, proses pemindahan makam ini direncanakan selama lima hari dan selesai pada Kamis (5/12) mendatang. Proses relokasi diawali dengan doa bersama dan selamatan bedah bumi.
"Kami melakukan kerja sama dengan Al Iswat Semarang. Mereka adalah majelis zikir yang mempunyai pekerjaan memindahkan makam leluhur," jelasnya.
Karjono menerangkan, proses pemindahan ini dilakukan dengan penggalian makam lama. Apa pun yang ditemukan, baik itu tulang, tanah menggumpal, hingga kain kafan dikumpulkan. Khusus untuk umat muslim turut diberikan air zamzam.
Selanjutnya, temuan-temuan itu dibungkus dengan kain kafan baru dan diberi minyak wangi. Jenazah lalu dimasukkan ke dalam peti dan dibawa ke lokasi makam baru untuk dikebumikan lagi.
Baca Juga: Warga Ponjong Kena Tipu Usai Bayar Rp 80 Juta untuk Jadi PNS di Dispar Gunungkidul
Untuk sementara ini jenazah yang terdata sejumlah 374. Meski demikian, jumlah ini dimungkinkan terus bertambah. Makam lama sendiri disebut memiliki luas sebesar 1.200 meter persegi, sementara lokasi baru seluas 1.400 meter persegi.
"Kami juga menemukan jenazah sesepuh di Makam Si Jambu yakni Romo Subekti Nitiharjo. Sebelumnya itu belum diketahui," katanya.
Karjono menuturkan, untuk setiap jenazah diberikan biaya pemindahan oleh pihak proyek tol sebesar Rp 5 juta. Uang ini sepenuhnya dikelola oleh panitia pemindahan.
"Sebetulnya yang berhak mengelola uang itu ahli waris, tapi sudah dipercayakan untuk dilakukan oleh panitia," ucap laki-laki berusia 55 tahun ini.
Sementara itu, Ketua Kelompok Ternak Tukimin mengatakan, anggotanya sejumlah 22 orang. Seluruhnya memelihara sapi untuk penggemukan atau peranakan. Rata-rata satu orang memiliki dua hingga tiga sapi.
"Para anggota sudah setuju untuk sapi dipindahkan ke rumah masing-masing. Kami ngalah karena kasian anak cucu kalau makam malah dipindah lebih jauh," ucapnya.
Laki-laki berusia 82 tahun ini menyebut, lokasi ternak yang merupakan tanah kas desa sudah dibersihkan. Baik dari kotoran maupun tiang-tiang kandang. Selanjutnya lahan juga telah diuruk dan baru digunakan sebagai lahan makam. (del/laz)
Editor : Heru Pratomo