SLEMAN - Salak yang jadi buah asli dari Kabupaten Sleman mengalami penurunan harga jual. Atas kondisi ini, petani berharap pemerintah dapat mengontrol pasokan dari berbagai wilayah lain.Salah satu petani Salak Zulfigar mengatakan, salak seharga Rp 750 tiap kilo itu adalah untuk ukuran kecil dan campur. Ada juga yang dihargai Rp 1.500 tiap kilonya.
Menurutnya, harga salak paling mahal hanya Rp 5.000 tiap kg. Itu pun untuk salak berukuran besar dan berkualitas sangat baik."Kalau dibanding dulu harganya jelas jauh. Dulu 1 kg salak bisa buat beli 1 kg beras, sekarang 10 kg salak baru buat 1 kg beras," tambahnya.
Menurutnya, kondisi ini terjadi lantaran banyaknya penghasil komoditas salak dari wilayah lain. Sehingga, Kapanewon Turi bukan lagi satu-satunya tempat yang bisa memproduksi salak.Atas kondisi ini, Zulfigar menyebutkan bahwa banyak petani salak yang membiarkan tanamannya. Beberapa bahkan beralih untuk menanam komoditas lain, seperti tomat, cabai, dan timun."Harapannya pemerintah bisa lebih merangkul petani dan mengontrol pasokan salak dari wilayah lain," ucapnya.
Selain itu, dia berharap akan adanya pelatihan dan bantuan pada petani untuk mengolah buah salak. Misalnya, dijadikan kripik dan manisan. Zulfigar sendiri menilai, mesin-mesin untuk pengolahan produk tersebut harganya cukup mahal."Kalau pupuk aman karena kami ada pupuk alami juga dari dahan pohon salak yang dipotong. Hama paling dari lalat buah dan bisa dikontrol," ucapnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Suparmono mengatakan, belum memperbarui informasi soal harga salak ini. Meski demikian, dia menilai harga ditentukan oleh banyak pihak. Tidak bisa hanya didasarkan dari pertanian selaku sektor produksi."Saat ini banyak komoditas turun. Kami bantu semaksimalnya dan banyak mengusahakan," ucapnya.
Dia juga turut mengimbau agar para petani salak tetap merawat tumbuhannya dan jangan sampai dibuang. Menurutnya, akan ada waktunya harga salak meningkat lagi."Kami juga sudah berikan bantuan peremajaan pohon dan segala macam sama seperti kami memperlakukan komoditas lain," ucap Suparmono. (del)
Editor : Din Miftahudin