SLEMAN - Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menyebut, pada 2024 ini ada 394 anak tak sekolah. Salah satu penyebab paling utama adanya masalah keluarga. Mayoritas berasal dari jenjang SMA sederajat. Sedangkan wilayah paling banyak anak tak sekolah adalah Kapanewon Gamping.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Insan Yudanarto menyebutkan, umumnya mereka putus sekolah. Persoalan keluarga justru jadi faktor utama masalah ini. Mulai dari keluarga tak harmonis, orang tua yang bercerai, dan hanya diurus oleh orang tua tunggal. Selanjutnya, baru disebabkan oleh faktor ekonomi sehingga anak-anak kerap kali harus bekerja sebelum waktunya. "Paling sedikit di Kapanewon Mlati. Hal ini bisa karena berbagai faktor, seperti jarak dari rumah ke sekolah dekat, faktor sosial, hingga ekonominya baik," tambahnya.
Insan menuturkan, ada berbagai upaya untuk menekan jumlah anak tak sekolah ini. Utamanya dengan melakukan pembinaan pada anak dan keluarga. Baik itu melalui kalurahan, pemuka agama, hingga tokoh masyarakat. "Kami juga memiliki satuan tugas khusus. Jadi anak didorong agar mau sekolah lagi," ucapnya.
Nah, ketika nantinya anak mau kembali bersekolah, Dinas Pendidikan akan membantu menyalurkan mereka pada sekolah formal. Apabila ternyata ada syarat yang tidak memenuhi maka akan disalurkan pada sekolah non-formal, yakni Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). "Kalau SD nanti ambil paket A, SMP paket B, dan SMA sederajat dengan paket C," kata Insan.
Meski demikian, untuk menurunkan angka anak tak sekolah hingga nihil bukanlah persoalan gampang. Sebab, Sleman adalah wilayah dengan jumlah penduduk yang banyak. Selain itu, kondisi ekonomi, sosial, dan geografi juga turut memengaruhi. Harapannya ada sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk anak putus sekolah ini. “Dari undang-undang sudah diatur kalau pendidikan adalah hak anak dan kami wajib melaksanakan hal tersebut," tandasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Ery Widaryana menambahkan, putus sekolah adalah persoalan yang kompleks. Ini harus ditangani semua pihak. Diharapkan nanti bisa ditemukan solusi dan formulasi untuk menanganinya. (del/din)
Editor : Din Miftahudin