SLEMAN - Lahan pengganti untuk Makam Kyai Kromo Ijoyo atau yang kerap disebut sebagai Situs Mbah Celeng masih dilakukan proses pengecoran pada Rabu (20/11/2024). Dengan demikian, waktu relokasi makam sudah semakin dekat.
Makam tersebut seluruhnya terdampak pembangunan jalan Tol Jogja-Solo paket 2.2. Untuk lokasi relokasi sendiri masih berada di Padukuhan Ketingan, Tirtoadi, Mlati dan tak berjarak jauh dari lokasi makam awal.
Baca Juga: Kenaikan PPN 12 Persen, PHRI Gunungkidul Khawatir Terjadinya Gelombang PHK Tahun 2025 Mendatang
Humas Proyek Tol Jogja-Solo-YIA Area DIY PT Adhi Karya (Persero) Tbk Agung Murhandjanto menuturkan, sebelum pembangunan ini telah dilakukan acara selametan untuk peletakan batu pertama. Untuk saat ini, pengerjaan yang dilakukan adalah membuat alas dan dinding makam.
"Untuk Mbah Celeng sudah aman. Sekarang fokus dalam tahap pembangunan," ujarnya.
Dia memperkirakan, pembangunan ini membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Meski demikian, makam tidak bisa langsung dipindahkan lantaran harus menunggu arahan keraton.
"Untuk waktu pemindahan perlu konsultasi dengan Keraton Jogja dalam menentukan hari baiknya. Kalau sudah diberikan, baru kami bisa pindah," ucap Agung.
Baca Juga: Gelar Media Gathering, UNISA Yogyakarta Jalin Kemitraan dengan Media Massa
Sementara itu, Lurah Tirtoadi Mardiharto menuturkan, prosesi pemindahan Makam Kyai Kromo Ijoyo memang harus dilakukan secara khusus karena merupakan leluhur yang dihormati oleh penduduk setempat.
"Kekhawatiran pemindahan makam keramat pasti ada, tapi nanti dibantu dari keraton jadi aman. Ini untuk proyek strategis nasional jadi harus dipindah," jelasnya.
Baca Juga: Pengda Percasi DIY Bangga, Kontingen DIY Masuk Tiga Besar di Kejurnas Catur Junior 2024
Kyai Kromo Ijoyo sendiri diyakini sebagai penghuni pertama Padukuhan Ketingan setelah meninggalkan keraton. Dia juga dianggap sebagai prajurit yang setia pada Pangeran Diponegoro.
Menurut Mardiharto, masih banyak masyarakat yang melakukan ziarah ke makam yang dianggap kramat ini. "Biasanya mereka yang berkunjung itu masih percaya dan nilai-nilai kejawennya masih kuat," ucapnya.
Baca Juga: Kenaikan PPN 12 Persen, PHRI Gunungkidul Khawatir Terjadinya Gelombang PHK Tahun 2025 Mendatang
Dia turut menuturkan, pengecoran pada lantai makam ini diperlu dilakukan agar bangunannya kuat. Selain itu, terhindar dari bencana ambles ataupun longsor apabila terkena air hujan. Mardiharto mengatakan, dari segi bangunan makam baru tak akan jauh berbeda dari lokasi lama.
"Lahan pengganti luasnya 12x12 meter. Lokasinya masuk tanah kas desa," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita