Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hingga Bulan September, Dinas Kesehatan Sleman Catat Ada 167 Kasus HIV dan 22 AIDS

Delima Purnamasari • Minggu, 17 November 2024 | 20:13 WIB

Ilustrasi HIV/AIDS. (Dok JawaPos)
Ilustrasi HIV/AIDS. (Dok JawaPos)

SLEMAN, RADAR JOGJA - Pada bulan Januari hingga September 2024, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat telah ada 167 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan 22 Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati menuturkan, virus yang menyerang sistem kekebalan manusia tersebut paling banyak terjadi pada usia produktif, yakni dari 20 hingga 29 tahun.

HIV sendiri dapat ditularkan melalui beragam cara. Mulai dari hubungan seks tidak aman, transfusi darah yang terinfeksi HIV, hingga penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Ketika HIV tidak diobati maka bisa berkembang menjadi AIDS.

"Kami membuat berbagai strategi. Terutama program promotif seperti edukasi dan sosialisasi," ucap perempuan yang akrab disapa Yuli ini.

Program tersebut ditujukan pada masyarakat dan kelompok rentan. Untuk proses pencegahan dilakukan dengan pengobatan pencegahan sebelum terpapar (PrEP) tes dan skrining HIV.

Sementara pencegahan kuratif atau pengendalian penyakit, fokus pada pengobatan dan perawatan orang yang sudah terinfeksi HIV. Di sini dilakukan pengobatan Anti Retroviral (ARV) secara teratur.

Selain itu, pengelolaan infeksi oportunistik karena berbagai macam mikroba muncul mengambil kesempatan selagi daya tahan tubuh sedang lemah-lemahnya.

"Kami turut memberikan dukungan psiko-sosial untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah perkembangan HIV menuju AIDS," tegas Yuli.

Dia turut menjelaskan, pada 2030 diharapkan bisa mencapai target three zero HIV/AIDS. Di sini tidak ada lagi infeksi HIV baru, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, serta tidak ada lagi stigma maupun diskriminasi terharap orang dengan HIV dan AIDS.

Sementara itu, salah satu warga Sleman Kukuh Basuki Rahmat turut bercerita pengalamannya melakukan skrining HIV. Menurutnya, tes semacam ini penting untuk mencegah penularan pada orang lain.

"Ketika sudah dites dan negatif jadi merasa lebih aman aja," ucap lulusan Magister Psikologi UGM ini.

Menurutnya, saat ini telah banyak layanan skrining HIV gratis.

Di sana seseorang hanya akan diambil sampel darahnya dan selang beberapa lama akan diberitahu hasilnya positif atau negatif HIV.

"Ketika skrining nanti diajak berdialog soal perilaku seksual. Akan diberi saran-saran juga," kata Kukuh. (del)

Editor : Bahana.
#hiv #Sleman #hiv aids #januari