SLEMAN - Ramai diperbincangkan soal peternak sapi di Boyolali yang membuang susu lantaran tak diserap oleh industri. Sementara di Sleman, produksinya justru turun dan mengalami kekurangan.
Dokter Hewan Unit Sapi Perah UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Diagnostik Kehewanan (BPPTDK) Dwi Susanto menjelaskan, di koperasi ini pemerahan dilakukan dua kali. Dalam sehari rata-rata yang dihasilkan 200 liter.
"Sapi kami ada 59 ekor, tapi yang dikoleksi susunya hanya 20. Sisanya kering kandang. Baik itu bunting, usia sudah tidak produktif, atau belum bunting sehingga belum bisa diambil susunya," ujarnya saat ditemui Selasa (12/11).
Berdasarkan data BPPTDK, pada Juli lalu produksi mencapai 7.455 liter, 6.851 liter pada Agustus, dan 5.634 pada September.
Menurut Dwi, jumlah produksi susu ini terus menurun. Salah satunya disebabkan karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang pada 2022 lalu. Meski sapi sudah sembuh, kondisinya tidak bisa normal kembali dan ini menurunkan jumlah susu yang dihasilkan.
Dia menerangkan, susu dari BPPTDK dijual Rp 6 ribu setiap liternya. Masyarakat bisa secara bebas membeli. Di sisi lain, mereka telah dikontrak oleh Koperasi Samesta untuk menyalurkan susu produksi berapa pun hasilnya.
"Di Sleman ini ada tiga koperasi. Nanti dari Samesta disetor ke industri pengelolaan susu dan dijual di retail seperti kafe, pengepul, atau pengecer," ujarnya.
Dikatakan, pada 2025 sebenarnya ditargetkan bisa menghasilkan susu hingga 4.000 liter setiap hari. Namun keseluruhan dari koperasi maupun peternak binaan masih ada di sekitar angka 1.200 liter.
"Produksi sapi tertinggi itu 100 hari setelah melahirkan. Setelah itu turun. Nanti setelah 100 hari ketiga akan stagnan. Memang sangat dinamis," ungkapnya.
Meski demikian, Dwi memastikan produksi susu BPPTDK berkualitas baik. Dia menerangkan, bibit yang dipilih merupakan unggulan, pakannya dijaga, dan apabila ada masalah kesehatan bisa ditangani.
"Kalau ada yang sakit lalu diberi antibiotik itu tidak disetor susunya. Kalau untuk industri keju dan susu yang membutuhkan bakteri itu tidak bisa. Ketika dikonsumsi manusia juga resisten," jelasnya.
Di sisi lain, BPPTDK juga sangat menghindari proses pemalsuan susu. Misalnya dicampur air atau santan. "Memang peternak itu disarankan ikut koperasi, jadi memiliki mekanisme yang jelas. Termasuk ada bantuan soal bibit, pakan, hingga pemasaran," tandasnya.
Hal senada juga disebutkan oleh salah seorang peternak Supadi. Dia menjelaskan, sebelum wabah PMK, produksi susu bisa mencapai 30 liter. "Sapi sekarang rata-rata di angka 15 liter," katanya. (del/laz)
Editor : Heru Pratomo