Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dorong Lahirnya Wirausahawan dari Kalangan Difabel, Pusat Rehabilitasi Yakkum Gelar Pelatihan Barista Gratis. Apa Tujuannya?

Gregorius Bramantyo • Kamis, 7 November 2024 | 03:00 WIB
PEMBERDAYAAN: Ervi Oktaviani, perempuan penyandang disabilitas dari Gunungkidul berlatih membuat minuman kopi di Cafe Cupable, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sleman, Rabu (6/11).
PEMBERDAYAAN: Ervi Oktaviani, perempuan penyandang disabilitas dari Gunungkidul berlatih membuat minuman kopi di Cafe Cupable, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sleman, Rabu (6/11).

 

 

SLEMAN – Pusat Rehabilitasi Yakkum menggelar pelatihan gratis untuk warga difabel yang berkeinginan menjadi barista, kemarin (6/11). Pelatihan digelar di Cupable Coffee. Ini merupakan salah satu unit usaha di bawah Pusat Rehabilitasi Yakkum. Pelatihan barista ini diharapkan mampu mendorong lahirnya wirausahawan baru dari kalangan difabel.

Project Manager Vocational Training Course, Maria Bernadette Rindiyastami mengatakan, pelatihan ini digelar dengan metode pembelajaran kelas selama 1,5 bulan. Ada empat peserta yang mengikuti pelatihan yang telah memasuki batch keenam ini.

Empat peserta adalah tiga penyandang disabilitas mental dan satu disabilitas fisik. Pelatihan ini digelar setiap setahun sekali secara gratis untuk memfasilitasi warga difabel yang hendak mengembangkan diri menjadi barista.“Kami mengadakan pelatihan satu kali setiap tahunnya karena memang animo penyandang disabilitas untuk meningkatkan kemampuan di bidang barista sangat tinggi,” katanya.

Pada awalnya ada 23 orang yang melamar untuk menjadi peserta pelatihan. Namun yang terjaring hanya empat orang. Tiga peserta dari DIJ dan satu peserta dari Jember, Jawa Timur. Pihaknya memang tidak bisa langsung memberikan kuota untuk banyak peserta sekaligus. Sebab setiap ragam disabilitas memerlukan penanganan yang berbeda dalam memberikan pelatihan. “Maka dari itu, instrukturnya kami pilihkan yang sudah berpengalaman melatih teman-teman disabilitas,” ucapnya.

Peserta pelatihan ini nantinya juga akan mengikuti magang di tempat usaha kopi selama seminggu. Tiga peserta akan magang di Cupable Coffee. Sementara satu peserta akan magang di salah satu kafe di kawasan Condongcatur, Depok, Sleman.

Maria menyebut, durasi magang hanya seminggu karena pihaknya melihat kemampuan dari para peserta. Pusat Rehabilitasi Yakkum tidak memberikan magang terlalu lama supaya peserta pelatihan bisa menentukan arah ke depannya. “Akan mencari pekerjaan sebagai barista atau keluarganya akan membuatkan usaha untuk menjadi barista sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini,” ujarnya.

Salah satu peserta pelatihan, Ervi Oktaviani mengaku mengikuti pelatihan ini karena penasaran dengan dunia kopi. Sebelumnya, Okta sapaannya, sering minum kopi namun yang kemasan sachet. Sehingga dia tidak mengenal dunia kopi secara luas. Selain itu, Okta juga ingin belajar menjadi barista untuk bekerja di kafe. “Ada banyak pertanyaan dan penasaran, makanya pilih barista. Toh, kalau penjahit sudah banyak saingan dan saudara pun sudah ada yang penjahit,” katanya.

Dia mengatakan, dirinya ikut pelatihan karena dorongan dari diri sendiri untuk belajar bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Setidaknya penghasilan itu bisa untuk ditabung dan membantu keluarganya.

Baca Juga: OJK DIY Tekankan Pentingnya Pangkas Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Peningkatan Ekonomi

Okta menceritakan, pada awal ikut pelatihan, dia sama sekali tak mengenal dunia kopi. Sebelumnya hanya tahu kopi hitam dan kopi susu. Menjadi barista pun menurutnya tak mudah. Sebagai barista, dia dituntut harus pandai bersosialisasi dengan orang lain. Hal yang cukup sulit bagi Okta di awal karena kesehariannya dia hanya di rumah membantu ibu dan adiknya.

Namun setelah hampir satu bulan menjalani pelatihan, dirinya lambat laun memahami dan bahkan bisa menyeduh beberapa varian kopi. “Sekarang bisa nyeduh kopi v60, Vietnam drip, cappucino, dan tubruk,” ungkap peserta asal Nglipar, Gunungkidul ini.

Usai menjalani pelatihan ini, Okta berencana akan membuka usaha kopi kecil-kecilan. Rencana itu, katanya, juga sudah didukung penuh oleh sang ibu. Yang terpenting, dia harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh. “Mau bikin menu matcha latte sama mocktail,” ujarnya. (tyo/din)

Editor : Din Miftahudin
#pelatihan #pemberdayaan #Difabel #barista #Yakkum