SLEMAN - Ribuan anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser DIY) menggelar apel di Pondok Pesantren Minggir Gus Muwafiq, Minggu (3/10/2024). Agenda bertajuk "Satu Komando Jaga Keistimewaan dari Miras dan Kriminalitas" ini diharapkan jadi dorongan agar pemerintah bisa menuntaskan persoalan minuman keras.
Kepala Satuan Koordinasi Nasional Banser Muhammad Syafiq Syauqi menjelaskan, agenda ini dibuat untuk memastikan seluruh kader bisa patuh satu komando terhadap pimpinan tertinggi dalam menyikapi persoalan di DIY, termasuk miras. Dia turut menegaskan, agenda ini tidak ada kaitannya dengan kontestasi pilkada.
Baca Juga: Alan Jose On Fire, PSS Sleman Taklukkan Persis Solo Untuk Keluar dari Zona Degradasi
"Banser ini ormas kepemudaan satu komando. Yang bisa memerintah hanya pimpinan tertinggi," katanya.
Menghadapi maraknya peredaran miras di DIY, dia juga memastikan tidak adanya razia secara mandiri oleh anggota banser. Dia menilai, untuk melawan kejahatan tidak boleh dilakukan dengan membuat kemungkaran baru.
"Kami mendukung pemerintah terkait instruksi oleh Gubernur maupun dari daerah. Kami hanya mengawal dan memastikan aparat pemerintah menjalankan fungsinya," tandasnya.
Ketua Gerakan Pemuda Ansor Abdul Muiz menerangkan, agenda ini juga dipicu oleh kasus penusukan pada dua santri Pondok Pesantren Al Fatimiyah Krapyak. Dia menegaskan, pihaknya akan terus mengawal kasus tersebut.
"Miras pasti kami kawal termasuk pemberlakuan dari Instruksi Gubernur. Tentu yang kami butuhkan adalah penerapan dari instruksi tersebut," ucapnya.
Dalam agenda yang mengundang 10.000 anggota banser ini, Abdul berharap tindakan pemerintah tidak hanya sesaat. Dengan kata lain, pengendalian harus konsisten terlepas ada aksi atau tidak.
"Di DIY, kami punya data 400 outlet miras yang belum disentuh," tegasnya.
Apabila nanti kios miras tersebut tidak segera ditangani, Abdul mengatakan pihaknya akan melakukan tindakan sesuai dengan kapasitas mereka.
Gus Muwafiq sendiri turut menegaskan, peredaran miras jangan sampai terbuka bebas. Menurutnya, masyarakat harus dilindungi, apalagi sudah jatuh korban.
"Kiai tentu punya tanggung jawab untuk urusan seperti ini. Kami jaga keamanan bersama dan jangan sampai carut-marut," tandasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita