SLEMAN - Mengantisipasi laju inflasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman membuat cadangan lumbung pangan kedua. Ini adalah usaha untuk memaksimalkan penggunaan lahan tidak terpakai dan perkotaan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sleman Raden Haris Martapa menerangkan, tingkat inflasi di DIY secara umum mencapai 1,85 persen. Oleh sebab itu, untuk menekan kenaikan harga maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas harga.
"Salah satunya adalah penyediaan lumbung pangan kedua. Harapannya bisa menjaga ketersediaan stok rumah tangga," ucapnya Rabu (30/10/2024).
Program ini menyasar kelompok wanita tani. Haris menilai mereka mampu melakukan optimalisasi lahan perkotaan. Terlebih, telah mendapatkan bantuan sumur ladang maupun pompa air.
"Salah satu yang kami berikan stimulus adalah KWT Srikandi Makmur Gejayan. Mereka melakukan urban farming utamanya untuk sayuran dan cabai," ucapnya.
Haris memperkirakan, KWT Srikandi Makmur Gejayan akan panen pada Februari atau Maret menjelang hari raya. Dengan demikian, dia berharap bisa mengendalikan inflasi ke depan.
Dia turut menjelaskan, Kabupaten Sleman telah memberikan berbagai bantuan untuk mewujudkan lumbung kedua ini, sepeti mulsa, polybag, dan paranet. Sementara untuk bibit, jumlahnya mencapai ribuan. Di antaranya cabai 1.500 batang, bibit sawi 1500 batang, dan bibit tomat 1.500 batang.
Baca Juga: Desa Sidorejo Purworejo Wakili Jateng-DIY untuk Penilaian Kampung Pancasila di Tingkat Nasional
Sementara itu, Pjs Bupati Sleman Kusno Wibowo berharap program ini bisa dilakukan secara berkesinambungan oleh warga Sleman. Dia sendiri menuturkan akan membuat program serupa di seluruh kapanewon.
"Kota itu lahannya terbatas. Dengan distribusi sarana produksi dan cara penanaman yang tepat maka lahan sempit bisa juga jadi lumbung pangan," ungkapnya.
Dia turut berharap agar KWT bisa meningkatkan hasil produk pertanian. Apabila nantinya membutuhkan bantuan maka bisa bersilaturahmi dengan Pemkab Sleman. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita