SLEMAN - Tumbuhnya penduduk dan industri membuat lahan semakin terbatas. Oleh sebab itu, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Sleman kembali mengingatkan pentingnya pembangunan berdasarkan potensi wilayah masing-masing.
Kepala Dispertaru Sleman Agung Armawanta menjelaskan, karakteristik Bumi Sembada berada di tengah-tengah. Tidak bisa disebut sebagai wilayah urban, dan bukan merupakan desa murni.
Oleh sebab itu, meski pertumbuhan ekonomi dari sektor jasa dan konstruksi tinggi, tetap perlu mempertimbangkan sektor pangan dan pertanian. "Harmonisasi antara wilayah penyangga dan pusat pertumbuhan itu sangat penting," ucap Agung.
Melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 13 Tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang Tahun 2021-2041 sendiri telah dilakukan pemetaan.
Untuk kawasan Sleman utara, ditekankan pada penataan permukiman yang mendukung tumbuhnya kegiatan wisata alam dengan terintegrasi pada mitigasi bencana.
Sementara Sleman tengah bertemakan sosial budaya. Sehingga, permukiman dan fasilitas perkotaan ditata untuk mendukung kegiatan jasa pendidikan maupun pariwisata. Selanjutnya, Sleman timur ditekankan pada pemukiman yang mendukung wisata budaya peninggalan sejarah.
Terakhir adalah Sleman barat yang ditekankan pada pembangunan permukiman berdasar pertanian modern, agrobisnis, dan agrowisata. "Tata ruang itu hadir untuk mengharmonikan berbagai kepentingan yang harus diakomodasi. Jadi tidak sesuai dengan ego masing-masing," ucap Agung.
Dia juga menekankan bahwa sumber daya alam semakin terbatas. Untuk itu, perlu dilestarikan dan dijaga bagi kehidupan selanjutnya. Dengan kata lain, memberikan ruang yang nyaman tanpa eksploitasi berlebihan. "Regulasi sudah dibuat. Ada kewajiban stakeholder juga untuk ikut berkontribusi dan berpartisipasi agar tujuan baik ini bisa dilakukan," tambahnya.
Agung sendiri turut menekankan pentingnya kebijakan yang responsif. Hal ini lantaran perkembangan teknologi, perubahan politik nasional, dan berbagai hal lain yang bisa jadi berdampak pada arah pembangunan. "Sleman ini sekarang terbelah oleh tol. Ini akan mengubah wilayah sekitarnya," tandasnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Geografi UGM M Baiquni menjelaskan, pembangunan semestinya tidak didasarkan hanya pada fisik, tetapi juga spiritual. Misalnya, menghadirkan ruang bermain yang layak dan tepat bagi anak berarti ikut mendukung masa depannya.
"Sleman ini bagian dari DIJ dan DIJ bagian dari Indonesia. Tentu ada kawasan yang harus ditonjolkan," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita