SLEMAN - Action by Churches Together (ACT Alliance) yang merupakan aliansi gereja-gereja dunia menggelar sidang raya di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Selasa (29/10/2024). Di sini para pemimpin agama, pelaku kemanusiaan, serta pembicara internasional membahas persoalan kerusakan iklim.
Sekretaris Jenderal ACT Alliance Rudelmar Bueno de Faria menjelaskan, dunia tengah diterpa berbagai bencana alam yang semakin parah dan meningkatkan jumlah pengungsi. Hal tersebut diperburuk oleh ketidakamanan pangan dan air.
"Sayangnya, respons global terhadap keadaan darurat kemanusiaan ini belum memadai," katanya.
Dia menilai, diperlukan kemauan politik yang kuat untuk mengatasi keadaan darurat ini. Masyarakat sipil tidak bisa melakukannya sendirian.
"Pemerintah dan lembaga internasional harus mengutamakan aksi iklim dan pendanaan kemanusiaan," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia Jerry Pillay menilai, dunia telah kehabisan waktu untuk mengatasi kerusakan lingkungan. Sementara pembakaran fosil dan eksploitasi sumber daya alam terus belanjut. Dia menegaskan, pentingnya partisipasi aktif kaum muda sebagai penggerak utama.
"Ini mengancam mata pencarian dan kesehatan. Kondisi ini akan berdampak utamanya pada mereka yang paling rentan," ucapnya.
Perwakilan Yakkum Emergency Unit Brigita Ra Sekar Laras turut menekankan, komitmen negara yang minim turut mempersempit kebebasan untuk berekspresi. Untuk itu, salah satu solusi yang dia tawarkan adalah fokus pada kesadaran kolektif.
"Komunikasi mengenai perubahan iklim dan dampaknya harus dilakukan secara jelas dan mudah dipahami," ucapnya.
Menurutnya, hal tersebut sangat krusial lantaran perubahan iklim kerap kali terasa tidak terlihat. Padahal, dampaknya sangat berbahaya bagi masa depan. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita