Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lanjutan Audiensi dengan DPRD DIY, Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck Akan Ditutup Setiap Lima Tahun Sekali

Delima Purnamasari • Sabtu, 26 Oktober 2024 | 14:00 WIB

 

 

SEPAKAT: Proses tanda tangan kesepakatan soal penutupan Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck Jumat (25/10/2024).
SEPAKAT: Proses tanda tangan kesepakatan soal penutupan Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck Jumat (25/10/2024).
 

SLEMAN - Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck disepakati akan ditutup setiap lima tahun sekali. Pembahasan ini dilakukan di Griya Den Djoyo Jumat (25/10/2024). Sebagai buntut audiensi dengan DPRD DIY pada 14-15 Oktober lalu. 

Pada pembahasan ini disepakati tiga poin. Pertama penutupan Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck dilakukan pada bulan November. Ini dilakukan setiap lima tahun sekali terhitung, pada bulan November 2029.

Kesepakatan kedua, apabila terjadi kerusakan parah di Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck dan harus dilakukan penutupan maka perlu diinformasikan pada semua pihak. Selanjutnya, dilaksanakan berdasarkan kesepakatan. Terakhir, adalah berita acara dapat ditinjau ulang apabila diperlukan. 

 Baca Juga: Tinggalkan Pertanian Tradisional, Kementan Gandeng Milenial Menuju Pertanian Modern

Ketua Aliansi Peduli Petani Sleman Sutrisno menjelaskan, dimatikannya dua saluran air dalam satu bulan ini menghilangkan satu kali masa tanam petani. Berdasarkan hitungannya, kondisi ini memberikan kerugian hingga Rp 170 miliar.

Hal ini mencakup 5.000 hektare lahan yang bergantung pada Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck. "Kalau dimatikan Oktober, mau nanam dari Agustus tidak berani. Tanaman umur dua bulan DIYemur satu bulan tanpa air pasti mati. Jadi kerugiannya selama tiga bulan," bebernya. 

 Baca Juga: Opening Party Honda DBL with Kopi Good Day 2024 DI Yogyakarta Langsung Suguhkan Laga-Laga Seru, Termasuk De Britto v Pangudi Luhur

Dengan adanya kesepakatan ini, Sutrisno mengaku puas. Sebab apabila saluran dimatikan pada November, umumnya hujan sudah turun sehingga tanaman akan tetap aman. Dia juga berharap keputusan ini bisa DIYalankan oleh semua pihak. 

"Kalau masalah teknis bangunan, yang memilki kewenangan harus mencari solusi, bukan petani," ucapnya. 

 Baca Juga: Pelatih PSIM Jogja Seto Nurdiyantara Belum Berfikir untuk Cari Pengganti Pedrinho, Pilih Optimalkan Pemain Yang Ada

Sementara itu, Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air BBWS Serayu Opak Vena Rahayu Surya Putra menerangkan, hasil kesepakatan ini harus dibawa hingga ke gubernur untuk menghasilkan surat keputusan resmi. Hal inilah yang nantinya bisa mengikat semua pihak. 

 

Vena turut menyebut, jika saat ini Saluran Van Der Wijck yang sempat dihidupkan kini dimatikan kembali. Lantaran ada kebocoran. Hal ini mendesak untuk dilakukan perbaikan dengan cara ditambal menggunakan beton. 

"Kalau ditambal, tidak bisa langsung dialiri agar beton benar-benar kuat. Kami yakin dalam dua minggu waktunya cukup dan air bisa dialirkan kembali," ujarnya. 

Dia sendiri turut menekankan pentingnya perawatan dari dua saluran di Sleman ini. Baik itu untuk mengangkat sedimen, pembersihan sampah, penanganan kebocoran, hingga pengecekan pintu-pintu air. 

 Baca Juga: Main Mata dengan Paslon saat Pilkada, ASN di Kabumen Bakal Disanksi Tegas

Sekretaris Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Rofiq Andriyanto yang turut hadir menuturkan, persoalan ini terjadi lantaran petani masih suka dengan pola padi-padi-padi. Dia sendiri mendorong untuk melakukan perubahan menjadi padi-padi-palawija. "Palawija tetap butuh air, tetapi tidak sebanyak tanaman pangan," ujarnya. (del/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Selokan Mataram #penutupan #Saluran Van Der Wijck #BBWS Serayu Opak #DP3 Sleman #Petani Sleman