SLEMAN - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mendorong petani cabai untuk melakukan pengeringan secara higienis. Pengeringan merupakan salah satu teknologi sederhana untuk mendapatkan produk hortikultura dengan daya tahan lebih lama dengan kualitas yang baik.
Plt. Kepala DP3 Suparmono menjelaskan, Pemkab Sleman telah memberikan bantuan berupa solar dryer dome. Alat berbentuk kubah ini menggunakan bahan bahan polycarbonate yang mampu bertahan 10 hingga 30 tahun. “Selain itu, lantainya yang dibuat dari beton atau semen juga membuat panas dari matahari lebih merata,” tuturnya, Senin (14/10).
Menurut Suparmono, mayoritas petani masih melakukan pengeringan langsung dengan sinar matahari. Padahal, hal ini membuat potensi kerusakan produk besar karena adanya serangga, jamur, hingga hujan.
"Petani harus bisa menghasilkan produk yang kering, kualitas, dan higienis. Sehingga, nanti dapat dijual sampai ke luar daerah," jelasnya.
Suparmono menjelaskan, solar dryer dome ini memiliki keunggulan tersendiri. Mulai dari membuat produk jadi lebih tahan lama, rasanya tidak hilang, dan kualitasnya terjaga. "Kami ingin petani bisa mengelola hasil produksinya jadi tidak hanya memasarkan produk segar saja. Ini salah satu strategi agar petani bisa sejahtera," ucapnya.
Apabila dibandingkan, harga cabai kering satu kilogramnya mencapai Rp 70 ribu – Rp 150 ribu. Jumlah ini bisa diperoleh dari lima kg cabai dengan harga Rp 30 ribu saja.
"Harga cabai kering lebih stabil dibandingkan cabai segar yang fluktuatif. Sehingga, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih besar," tandas Suparmono.
Salah satu pengurus Koperasi Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Nanang menuturkan, pengeringan menggunakan solar dryer dome hanya butuh waktu kurang dari tujuh hari dan dengan tingkat kekeringan 90 sampai 100 persen ."Namun, kapasistasnya masih sangat terbatas. Satu kali pengeringan hanya dapat menampung 240 kg cabai segar," ucapnya. (del/pra)
Editor : Heru Pratomo