SLEMAN - Sebanyak 17 karya turut dipamerkan dalam pameran seni rupa. Pameran bertajuk Nature Relaxation ini mencoba menampilkan eksplorasi alam yang merekam keindahan ciptaan Tuhan.
Melibatkan enam seniman yakni Dwipo Hadi, Febritayustiani, Indirabunyamin, N Rinaldy, Pratiwi Endang Lestari, dan Retno Aris. Semua karya mereka identik dengan keindahan alam dari sudut pandang masing-masing.
"Seniman itu ada kedekatan dengan alam, mereka memaknainya dengan melakukan aktivitas berkesenian agar terus berjalan," ujar Kurator Pameran Dwipo Hadi Minggu (29/9/2024).
Dalam melakukan proses kuratorial, dia memilih karya-karya seniman yang cocok dengan konsep alam. Selain itu, lokasi pameran juga berada di bentangan alam yakni dataran tinggi yang berdekatan dengan Candi Boko.
Salah satu karya berjudul Hidden dari Febrita Yustiani lekat dengan bunga dan abstraksi. Menurutnya, bunga dimaknai sebagai objek yang terbentuk dari berbagai warna alami sehingga tercipta sebuah keindahan. Warna itulah yang membuat hatinya gembira dan memberikan perasaan nyaman.
"Abstrak menjadi kekuatan menuangkan berbagai macam peristiwa yang dialami maupun harapan masa yang akan datang," sebutnya.
Sementara Maestro Seni Rupa Jogjakarta Nasirun mengatakan, tema tersebut menjadi terhubung apabila proses berkesenian dimaknai sebagai salah satu proses kerja kebudayaan untuk menemukan relaksasi. Menurutnya, dalam proses tersebut akan mendapatkan ruang curhat untuk menemukan identitas diri.
"Jadi mendapatkan suatu kekenyangan batin, walaupun tetap mempunyai ambisi kesuksesan," tegasnya.
Nasirun percaya, sebuah karya dari seorang seniman bermula dari batin, lalu indera untuk melihat alam semesta. Dia berharap, tema tersebut masuk menyentuh batin para seniman. Agar keindahan kodrati yang ditorehkan dalam kanvas menciptakan humanisme bagi semesta dan isinya. "Bagi seorang penyair, pelukis, pematung, penari dan para seniman, alam menyimpan sebuah keindahan kodrati yang tak terbantahkan," ujarnya.
Baca Juga: Hendak Mancing, Temukan Mayat Bayi di Bantaran Sungai Winanga Jetis, Kota Jogja
Nasirun menilai seniman berbeda dengan jenis pekerjaan lain. Terlebih dari segi sudut pandang yang bermuara pada pemaknaan terhadap setiap objek ciptaan Tuhan. “Pengusaha kayu melihat pohon dari batang kayu, penggembala kambing bahkan tidak menghiraukan batang kayunya,” sebut Nasirun mencontohkan.
Diketahui, pameran ini masih akan dibuka sampai 27 November. Berlokasi di Galeri Hotel Amaranta Prambanan, Sleman. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita