SLEMAN - Inovasi tak biasa dilakukan oleh Anang Kurniawan. Sejak 2011, laki-laki asal Sleman ini telah menjalankan usaha Warung Kuliner Extrim dengan menu daging reptil.
Ada berbagai jenis menu yang tersedia di warung yang berada di Jalan Yudhistira, Gandekan, Tlogoadi, Mlati, Sleman ini. Mulai dari ular piton, biawak, bulus, bajing, tokek, hingga codot. Daging-daging tersebut bisa digoreng atau diolah menjadi tongseng hingga rica-rica.
Anang juga menyediakan menu yang umum, seperti soto, wader, dan belut. "Awalnya itu kami jualan angkringan dan ada soto ayam juga," ujar Anang.
Hingga suatu ketika, kawannya yang senang menangkap biawak mengajaknya untuk memasak bersama. Karena olahannya dirasa enak, Anang disarankan untuk menjualnya.
Berawal dari informasi dari mulut ke mulut serta saran dari pengunjungnya, Anang perlahan-lahan menambah menu yang dijual. "Omzet tertinggi dalam sehari itu Rp 4 juta. Tapi itu sebelum Covid-19," ujar laki-laki berusia 47 ini.
Salah satu strategi yang dia gunakan untuk bisa bertahan hingga kini adalah cara memasak. Menurutnya, penting menjaga agar hasil olahannya tidak berbau amis.
Untuk itu, sebelum diolah, daging-daging tersebut harus direbus terlebih dahulu agar sisa darah bisa keluar. Selanjutnya, dibilas dengan air bersih.
Strategi penting lain yang Anang terapkan adalah hanya membeli hewan dalam kondisi hidup. Selanjutnya, Anang sendiri yang akan menyembelih, menguliti, dan memotong-motongnya.
"Dulu kami menerima biawak sudah mati. Ternyata kalau tidak segar, tesktur dagingnya beda. Warnanya pucat dan susah dikuliti," ucapnya.
Kini, Anang mengaku sudah banyak kenalan yang bisa memenuhi kebutuhan warungnya. Selama berdagang, dia sendiri justru tak pernah langsung berburu sendiri. "Tapi kalau musim kemarau panjang kami kesulitan cari biawak," tambahnya.
Anang bercerita, banyak juga tantangan dalam mengelola Warung Kuliner Extrim ini. Dirinya pernah dilaporkan karena menjual olahan landak. Dia mengaku, tak mengetahui jika hewan berduri ini dilindungi.
Baca Juga: PDM Bantul Tidak Condong ke Satu Paslon, Warga Muhammadiyah Diberi Kebebasan Memilih
"Padahal waktu itu sudah lama enggak jualan. Bahan baku sulit dan harganya mahal. Kebetulan yang nyetori tertangkap dan melaporkan," kenangnya.
Kini, keinginan Anang tak banyak. Dia hanya berharap usahanya bisa terus berjalan dan diminati oleh masyarakat. Dia sendiri mengaku belum terpikir untuk membuka cabang lain meski pelanggannya juga banyak berasal dari luar kota.
"Prinsipnya saya cari uang dan enggak merugikan orang lain," tandasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita