SLEMAN - Pembangunan Tol Jogja-Bawen di Margokaton, Seyegan, Sleman diminta untuk berhenti. Hal ini karena makam Si Jambu yang berada di Sultanaat Grond (SG) wilayah tersebut tak kunjung direlokasi.
“Kesepakatannya tol di sini tidak boleh jalan dulu," ujar salah satu ahli waris Giyanto saat mediasi warga dengan pihak Jasa Marga Kamis (26/9/2024).
Warga berharap pemindahan segera dilakukan lantaran khawatir material tol yang tinggi bisa menimbun makam. Namun dari hasil pertemuan, masih belum disepakati waktu pemindahan makam. “Pokoknya setelah proses pemberkasan selesai," tambahnya.
Pembahasan lanjutan sendiri direncanakan minggu depan melalui musyawarah. Di sana akan dibahas juga soal kepastian jalan menuju lokasi malam yang baru. Sebab, akses yang ada kini hanya berupa jalan sementara dan belum layak.
Meski demikian, warga telah bersepakat bahwa pemindahan makam akan diserahkan oleh panitia khusus. "Nanti panitia juga yang tanda tangan pencairan. Setiap nisan itu estimasi Rp 5 juta," tambah Giyanto.
Sebelumnya, warga juga mengeluhkan 101 jasad yang belum diakomodasi oleh pihak tol. Namun, Giyanto memastikan, semua jasad berjumlah 374 sudah terakomodasi.
Pemindahan sendiri akan dilakukan di tanah kas desa yang digunakan sebagai kandang kelompok setempat. Kini kandang telah kosong karena ternak sudah dibawa ke rumah pemilik masing-masing.
Sementara itu, ketua panitia pemindahan makam Karjono juga belum bisa menjawab terkait tenggat waktu pemindahan makam. "Nanti saya sampaikan ketika ada juklak kesepakatan dari kepanitiaan," ucapnya.
Karjono merinci, panitia pemindahan ini terdiri dari berbagai elemen. Mulai dari ahli waris, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga unsur pemerintah desa.
Kini, fokus utama dari panitia adalah melakukan pembersihan lahan. Baik itu dari bahan bangunan hingga sisa kotoran sapi.
Karjono sendiri juga yakin, lokasi pengganti bisa cukup untuk mengakomodasi seluruh jasad yang dipindahkan. "Mohon doanya saja. Nanti InsyaAllah siap dan cukup," ucapnya.
Sementara itu, perwakilan Jasa Marga yang hadir dilokasi menolak diwawancarai oleh wartawan. Dia menilai tidak memiliki kewenangan untuk memberikan informasi pada media. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita