SLEMAN - Teramati 63 kali guguran lava ke arah Kali Bebeng (Barat daya) dengan jarak luncur maksimum 1600 meter.
Teramati 1 kali Awan Panas Guguran ke arah Barat daya (Kali Bebeng) dengan jarak luncur maksimum 1000 meter.
Demikian laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) terhadap kondisi Gunung Merapi terkini.
Periode pengamatan Jumat 20 September 2024 pukul 00:00-24:00 WIB.
Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Terletak di perbatasan Kabupaten Sleman DIY, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
Cuaca di Gunung Merapi cerah dan berawan.
Angin bertiup tenang ke arah barat dan timur.
Suhu udara 15.9-27.8 °C, kelembaban udara 49-92 %, dan tekanan udara 870.7-918.9 mmHg.
Gunung Merapi terlihat jelas, kabut 0-II, hingga kabut 0-III.
Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 15 m di atas puncak kawah.
Terjadi kegempaan Awan Panas Guguran, Guguran, dan kegempaan Hybrid/Fase Banyak.
Tingkat aktivitas Gunung Merapi SIAGA LEVEL 3.
Rekomendasi dari BPPTKG sebagai berikut:
1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin