SLEMAN, RADAR JOGJA - Pendaftaran seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman dilakukan pada 20 Agustus hingga 6 September 2024.
Namun, hingga tiga hari menjelang penutupan, belum ada pendaftar formasi khusus disabilitas.
Formasi khusus yang disediakan untuk disabilitas ada tiga, yakni arsiparis terampil, pranata sumber daya manusia aparatur terampil, dan konselor sumber daya manusia.
"Ini mandat jadi harus ada formasi disabilitas. Jadi untuk menjamin hak semuanya," tutur Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Budi Pramono.
Dalam melakukan pendaftaran, disabilitas harus memenuhi persyaratan untuk melampirkan surat keterangan dokter terkait derajat dan jenis disabilitasnya.
Selain itu, membuat video singkat yang menunjukkan aktivitas sesuai jabatan yang akan dilamar.
"Jadi disabilitas tertentu yang masih bisa melakukan kegiatan," ucap Budi.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Budi menerangkan pegawai yang diterima masuk dalam katagori disabilitas fisik.
Hal ini ketika ada salah satu fungsi tubuh yang mengalami hambatan.
Dia turut menjelaskan, apabila nantinya jumlah pendaftar disabilitas ini tidak mencukupi maka perlu menunggu kebijakan dari panitia seleksi nasional.
"Bisa ada kebijakan optimalisasi, tapi kami masih menunggu," ucapnya.
Budi menambahkan hingga Selasa (3/9) sudah ada 1.189 pendaftar. Untuk itu, dia berharap penyandang disabilitas juga bisa segera mengikuti.
Penyandang disabilitas netra Rena Tri Setyo Maryana menerangkan, banyak faktor yang membuat disabilitas ragu-ragu untuk mendaftarkan diri sebagai CPNS.
"Umumnya yang diterima itu disabilitas fisik. Kalau aku yang netra itu masuknya disabilitas sensori. Jadi ragu-ragu," ucap Mahasiswa Magister Pendidikan Luar Biasa UNY ini.
Rena menjelaskan, dalam formasi CPNS mayoritas diterima juga disabilitas derajat satu.
Hal ini ketika hambatan yang dimiliki tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tuna netra tapi hanya sedikit rabun atau tangan yang agak bengkok.
"Aku tuna netra total jadi masuknya derajat dua yang membutuhkan alat bantu," ucapnya.
Di sisi lain, ada potensi diskriminasi yang mungkin bisa terjadi di lingkungan kerja.
Untuk itu, Rena berharap setidaknya pembukaan formasi khusus disabilitas ini bisa diberikan informasi lebih detail. Dengan demikian, mereka bisa menakar kemampuannya masing-masing.
"Diberikan aksesibilitas juga. Misal untuk aku yang netra, komputernya boleh diinstal aplikasi screen reader," harapnya.
Editor : Bahana.