RADAR JOGJA - Konsep mangan sing ditandur, nandur sing dipangan sangat erat kaitannya dengan kelompok wanita tani (KWT). Ya, konsep makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan memang ditujukan bagi ibu-ibu rumah tangga untuk mengisi kegiatan saat luang.
Agar program tersebut bisa menghasilkan produk pangan secara maksimal, para ibu diimbau membentuk KWT. Dengan konsep itu, kegiatan KWT tak terikat hanya menanam sayur atau tanaman buah di lingkungan tempat tinggal. Tapi, intinya memanfaatkan pekarangan rumah, meski dengan luas yang terbatas, untuk kegiatan produktif pangan.
Seperti yang dilakukan ibu-ibu KWT Makmur Kalasan. Selain menanam sayuran di pot-pot, mereka juga memelihara ayam kampung untuk diambil telurnya.
Bupati Sleman Dra Hj. Kustini Sri Purnomo sangat apresiatif dengan budidaya ayam kampung petelur KWT Makmur Kalasan. Dari seratus ekor ayam yang dipelihara dalam kandang, tiap hari bisa menghasilkan telur 40-50 butir. "Ini sangat bermanfaat untuk pemenuhan gizi keluarga dalam upaya penurunan stunting," ujar Kustini belum lama ini.
Dalam kesempatan itu, Kustini juga memanen tanaman bayam merah dan cabai hijau. Sayur mayur tumbuh subur di pot-pot pekarangan warga. Pot yang digunakan pun tak harus terbuat dari tanah liat atau tembikar. Warga bisa memanfaatkan galon bekas air mineral kemasan. "Bahan bakunya murah dan mudah didapat. Hasilnya lumayan. Tidak perlu belanja di pasar," ungkapnya.
Menurut Kustini, pemenuhan gizi keluarga tidak harus dengan makanan mewah dan mahal. Sebaliknya, justru banyak bahan pangan murah yang relatif mudah diperoleh di sekitar tempat tinggal warga. "Untuk pemenuhan kebutuhan protein juga bisa dari ikan yang dipelihara di kolam sendiri," tutur bupati.
Kustini optimistis, hasil pangan mandiri dari pekarangan sendiri akan berdampak positif dalam mendukung program pemerintah mewujudkan ketahanan pangan daerah maupun nasional. (cr1)
Editor : Satria Pradika