RADAR JOGJA - Gerobak sapi menjadi sarana transportasi utama masyarakat pedesaan pada zamannya dulu. Kini alat transportasi tradisional yang dipiloti oleh "bajingan" itu menjadi sesuatu yang unik dan langka.
Sebagai bagian dari budaya, para pemilik gerobak sapi di Kabupaten Sleman terus berupaya melestarikannya. Dengan menggelar pawai gerobak sapi, misalnya. Seperti acara yang diselenggarakan Paguyuban Pangrekso Andini Karyo di Lapangan Pojok, Harjobinangun, Pakem, Minggu (25/8/2024).
Bicara tentang pelestarian gerobak sapi, Bupati Sleman Dra Hj. Kustini Sri Purnomo punya pandangan tersendiri. Bagi bupati, gerobak sapi termasuk alat transportasi tradisional dan menjadi simbol penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan RI. Maka sudah selayaknya masyarakat sekarang tetap nguri-uri keberadaannya.
Bahkan, Kustini berharap, para pemilik gerobak sapi menghidupkan kembali transportasi "jadul" itu sebagai daya tarik wisata Kabupaten Sleman. "Pawai gerobak sapi sebagai upaya untuk melestarikan alat transportasi lokal agar tidak tergerus modernisasi. Oleh karenanya saya sangat mendukung kegiatan paguyuban gerobak sapi itu," ujarnya.
Kustini optimistis, pawai gerobak sapi memiliki daya ungkit untuk mendukung pelestarian budaya sekaligus memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Sleman.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Zayid menilai, pawai gerobak sapi menggambarkan semangat juang. Menjadi simbol kerja keras, kesederhanaan, dan kebersamaan.(cr1)
Editor : Satria Pradika